IELTS pertamaku: That’s messed up!

Sesuai dengan judulnya, persiapan tes IELTS pertama saya memang cukup berantakan, hehe. Disaat postingan orang lain di blognya menunjukkan betapa teratur dan disiplinnya mereka dalam mengatur jadwal latihan dan belajar IELTS, here I am thinking “my post would be the messed-up version of it”.

Sesaat setelah keseluruhan rangkaian tes IELTS pertama ini selesai dan saya merasa ragu dengan usaha yang telah saya berikan, saya bernadzar untuk membuat postingan review tes IELTS saya jika hasilnya nanti mencapai/melebihi standar nilai yang disyaratkan beasiswa dan perguruan tinggi yang saya tuju. Alhamdulillah, HasbunAllah wa ni’mal wakil. Berikan usaha terbaik dan biarkan Tuhan yang mengatur sisanya.

Tepat tanggal 4 Juli di Stasiun Yogyakarta, saat menunggu kedatangan kereta Prameks tujuan Wates, saya mencoba mengecek hasil IELTS saya secara online. Dan, Alhamdulillah… hasilnya melebihi nilai yang dijadikan persyaratan minimum perguruan tinggi dan beasiswa yang saya tuju. Alhamdulillah juga, bisa dibilang band IELTS saya aman digunakan untuk tujuan apapun. Jadilah saya nekat membuat postย ini. Insha Allah, nantinya post ini akan merangkum sedikit tips dan trik IELTS (dari yang saya alami, baca, tonton, pelajari dan dengar dari berbagai sumber) serta nanti saya cantumkan kompilasi links yang bisa diakses free untuk latihan/mendapatkan materi latihan IELTS. Besar harapan saya, postingan ini bisa bermanfaat.

Apa itu IELTS? Kenapa harus IELTS?

Pasti sudah tidak asing lagi dengan nama TOEFL, kan? Untuk melanjutkan sekolah, membuat skripsi, melamar pekerjaan, bahkan untuk naik jabatan/naik gaji, sebagian orang akan membutuhkan sertifikat TOEFL, yang hanya bisa didapat setelah mengambil tes TOEFL. Sertifikat TOEFL sendiri sertifikat yang bisa dijadikan ‘bukti’ kemampuan seseorang menggunakan Bahasa Inggris.

Nah, sebenarnya selain TOEFL, masih ada banyak tes lainnya untuk mengukur kemampuan Bahasa Inggris seseorang. Tapi yang paling dikenal orang Indonesia ini ya TOEFL dan mungkin TOEIC (yang merupakan masih saudara kandung TOEFL). Saya sendiri pun yang kuliahnya di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, baru benar-benar ‘ngeh’ akan keberadaan IELTS setelah lulus kuliah dan mulai mencari informasi mengenai perbeasiswaan. Mungkin sayanya saja yang kudet.

Jadi, meskipun sama-sama mengukur kemampuan berbahasa inggris seseorang, TOEFL dan IELTS ini berbeda cukup jauh dari segi format tes dan harga (haha). Berbeda dengan TOEFL yang memiliki tiga jenis yang berbeda dengan range harga dari yang murah sampai paling mahal (TOEFL prediction test, TOEFL ITP dan TOEFL iBT), IELTS ini ya cuma ada satu jenis dan satu harga; tes IELTS asli dan harganya mahal. Jikapun ada embel-embel IELTS yang murah, biasanya itu hanya mock test (tes percobaan) yang hasilnya tidak bisa digunakan.

IELTS itu sendiri singkatan dari International English Language Test System. Jadi kalau mau secara gampangnya membedakan IELTS dari TOEFL ini adalah, kalau TOEFL itu America banget sedangkan IELTS itu UK, Europe dan Australia banget. Cara lain untuk membedakan kedua tes ini adalah format tesnya. Jika TOEFL umumnya menggunakan format klasik pilihan ganda, IELTS menggunakan berbagai jenis pertanyaan mulai dari blank filling, matching, dsb. Sesuai dengan namanya, TOEFL iBT yang merupakan singkatan dari TOEFL internet based test, mengharuskan kita untuk menggunakan koneksi internet dalam pengerjaannya, yang berarti seluruh komponen tes yang terdiri dari writing, reading, listening dan bahkan speakingnya dikerjakan di depan komputer. Sebaliknya, IELTS merupakan paper based test, jadi ya pakai kertas untuk pengerjaan listening, reading dan writingnya. Sedangkan speaking tes di IELTS ini dilakukan secara langsung oleh seorang native speaker yang khusus ditugaskan oleh pihak IELTSnya.

Soal harga, TOEFL iBT tidak terlalu berbeda jauh dengan IELTS, terakhir saya cek website ETS (penyelenggara dan ‘pemilik’ tes TOEFL) harga satu kali tes TOEFL iBT itu sekitar 2,5 juta, sedangkan untuk IELTS kemarin, saya harus mengikhlaskan 2,98 juta, hiks. Untuk harga ini sepertinya tergantung nilai tukar Rupiah terhadap Dollar juga, semakin tinggi nilai Dollar ya semakin mahal.

Adapun alasan saya memilih IELTS dibanding TOEFL adalah karena (1) Negara tujuan perburuan S2 saya adalah Inggris dan Australia, dan proficiency test yang diutamakan di kedua negara ini adalah IELTS (meskipun mereka juga menerima TOEFL iBT) dan (2) sebagai tutor dan pengajar Bahasa Inggris, sudah seharusnya saya mengetahui jenis-jenis tes resmi pengukuran kemampuan Bahasa Inggris. Saya sudah cukup familiar dengan TOEFL, jadi sekarang saya juga harus familiar dengan IELTS.

Tahapan mendaftar IELTS.

Saya sebenarnya tinggal di Cimahi, sebuah kota kecil yang bertetanggaan dengan Bandung. Ingin rasanya mencari penyedia tes yang dekat dengan tempat tinggal dan tempat bekerja saya. Sayangnya, tidak ada lembaga penyedia tes IELTS di Cimahi, sehingga akhirnya saya mengikuti tes di Bandung. Hanya ada dua pilihan institusi yang bisa dipilih dalam membooking tes IELTS di Bandung ini; British Council dan IDP. Untuk di kota lainnya, tersedia pula IALF sebagai pilihan penyedia tes IELTS. Karena semasa kuliah dulu beberapa kali terlibat menjadi panitia acara seminar dan konferensi yang disponsori British Council, saya sebenarnya berencana mendaftar IELTS di British Council. Di BC ini harga tes IELTS pas di angka 2,8 juta, dan tempat tesnya pun cukup dekat dari daerah rumah saya, yakni di Hotel Aston Pasteur. Sayangnya, belum jodoh dengan British Council karena kecerobohan saya yang lupa mendaftar. Di peak season perburuan beasiswa seperti sekarang-sekarang ini, harus berlomba-lomba mengamankan kursi tes IELTS sesuai dengan deadline beasiswa yang kamu tuju. Perlu diingat, hasil IELTS baru akan keluar 13 hari kerja setelah tes.

Kembali ke pengalaman saya, pendek cerita, saya akhirnya mendaftar tes di IDP, itupun sepertinya kursi tes terakhir yang Alhamdulillah berhasil saya dapatkan. Pendaftaran dilakukan secara online, dan pembayaran pun saya lakukan secara online juga (menggunakan VCN debit BNI). Sebenarnya pembayaran bisa lewat transfer juga, tapi karena saya pikir lebih efisien dan praktis menggunakan VCN, jadi jatuhlah pilihan saya pada cara ini.

Setelah mendapatkan konfirmasi bahwa kita sudah terdaftar, kita tinggal menunggu e-mail dari staff institusi tempat kita mendaftar mengenai jadwal speaking dan writing test-nya. Jadwal speaking tes ini akan berbeda-beda tergantung ketersediaan interviewer. Ada yang speaking testnya setelah writing test, ada yang satu hari sebelum tes writing dan ada pula yang sesudah writing test. Saya sendiri kedapatan tes speakingnya sebelum writing test.

Persiapan menjelang tes IELTS hingga hari H.

Saya mendaftar tes IELTS sekitar pertengahan Mei sedangkan tesnya akan diadakan pertengahan Juni. Jadi, otomatis saya memiliki waktu sekitar satu bulan untuk persiapan. Saya juga sudah mempersiapkan materi-materi latihan dan jadwal latihan sendiri. Sayang, dengan beban pekerjaan yang tiba-tiba overload dan kegiatan Bulan Puasa yang cukup padat, kegiatan latihan IELTS mandiri saya hanya bertahan satu minggu dan saya baru bisa me-review dan me-resume hasil latihan saya terdahulu saat H-2 tes.

Saya berlatih IELTS ini dari beberapa website dan online course gratis yang bisa dicek di bawah ini:

Komponen tes yang saya lalui pertama kali adalah tes speaking, yang dilaksanakan satu hari sebelum written test di tanggal 17 Juni 2017. Hari itu hari Jumat, saya harus izin beberapa kelas dari pekerjaan saya. Di surel yang saya dapatkan, dituliskan jadwal tes speaking saya dimulai pukul 12:40, namun saya diminta datang 30 menit sebelumnya. Karena saya yang bangun terlambat dan tidak mendapatkan Go-jek, ditambah mang ojek yang saya tumpangi membawa saya nyasar dulu, saya gagal untuk sampai di kantor IDP jam 12:10. Alhasil, staff IDP sudah menelepon saya beberapa kali untuk mengingatkan saya mengenai tes speaking ini. Alhamdulillah, saya tepat sampai IDP pukul 12:40 dan langsung difoto dan diambil sidik jari dan langsung masuk ruangan tes.

Siang itu, interviewer saya bernama Margie(?). Saya lupa namanya ๐Ÿ˜. Margie ini ramah, jadi ya saya sedikit curhat saja saat ditanya kabar saya hari itu. Satu pertanyaan ke pertanyaan lain hingga akhirnya sesi tes speaking pun berakhir. Dan, yang saya rasakan adalah kurang puas. Sepanjang perjalanan menuju tempat kerja, saya mengingat kembali jawaban saya dan menyayangkannya ‘why didn’t I say this and that instead?!”. Sampai akhirnya saya pasrahkan saja, dan perbanyak doa.

Sedikit tips dari saya untuk speaking test ini adalah,

(1) Relax. Santai saja. Percuma kalau kamu sudah persiapkan banyak idiom atau vocabs yang sophisticated tapi kalau kamu gugup, semua idiom dan vocabs itu akan menguap entah kemana saat kamu membutuhkannya. Anggap saja examiner di depan kamu ini teman atau kenalan baru yang kamu akan ajak ngobrol. Jadi, kamu bisa lebih santai. Atau, jika kamu punya trik khusus untuk menghilangkan gugupmu sih, ya lakukan saja seperti apa yang biasanya kamu lakukan. Kalau saya biasanya menenangkan diri dengan mengatur nafas dan dzikir dalam hati.

(2) 3S: Senyum, Sapa dan Salam. Bersikaplah yang ramah. Sejatinya, examiner yang ada di depan kita itu adalah orang juga yang sangat mungkin untuk menjadi subjektif. Saya sendiri 4 bulan sekali mengetes kemampuan speaking murid-murid saya melalui interview yang kurang lebih formatnya hampir mirip dengan tes speaking IELTS ini. Terasa oleh saya sendiri saat menjadi seorang examiner, murid yang ‘memperlakukan’ saya sebagai teman mengobrol dan berdiskusi selama tes lebih berkesan dan mudah diingat dengan murid yang hanya menganggap saya sebagai seorang examiner. Tentu ini sangat berpengaruh terhadap penilaian saya.

Ini mengingatkan saya akan pesan dari salah satu dosen saya semasa kuliah, “dosen itu, mau seobjektif bagaimana pun, masih manusia yang memiliki sifat subjektif, jadi sentuhlah sisi subjektif itu meskipun sedikit”. Saya rasa hal ini bisa diaplikasikan untuk apa saja selama yang kita hadapi manusia yang pasti memiliki perasaan. Lagipula, kita sedang diuji kemampuan bahasa yang sejatinya digunakan untuk berkomunikasi. Jadi, yang paling penting untuk diingat adalah bagaimana efektifnya kita berkomunikasi.

Menggunakan vocabs dan idioms yang canggih tentu akan membantu, namun dengan tepat dan efektif menggunakan vocabs dan idioms itulah yang lebih penting. Berbeda dengan TOEFL, dimana kamu berhadapan dengan komputer yang tidak memiliki perasaan, speaking IELTS ini bisa kamu manfaatkan semaksimal mungkin untuk berinteraksi dengan sang examiner, tentu dalam batasan wajar ya.

(3) Latihan. Practice makes perfect. Bahasa itu masalah kebiasaan. It takes time. Jadi, membiasakan diri untuk berbicara Bahasa Inggris itu ya penting. Coba cari daftar pertanyaan-pertanyaan yang biasanya ditanyakan saat tes speaking IELTS. Bisa dicari dengan keyword “questions ielts speaking test” di Google. Dan berlatihlah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan merekam jawaban kita dan mendengarkan ulang. Dari sini kita bisa mengecek sendiri apakah pronunciation kita sudah tepat dan apakah jawaban kita sudah menjawab pertanyaan atau belum. Atau jika kamu punya teman yang memiliki kemampuan bahasa inggris yang lebih baik darimu, kamu bisa meminta tolong kepada mereka.

(4) Elaborate your answer. Jadi, kalau menjawab pertanyaan, jangan hanya menjawab seperlunya. Contohnya, jika ditanya apakah pendidikan itu penting atau tidak untukmu, biasakan memberikan jawaban ya atau tidak dan langsung diikuti dengan alasan. Jangan hanya menjawab ya atau tidak, dan kemudian menunggu ditanya examiner mengenai alasannya.

(5) Expand your vocabs. Tidak harus melulu vocabs yang ilmiah dan canggih. Cukup vocabs yang bervariasi. Contohnya, saat kita menyatakan kesukaan, coba untuk menghindari penggunaan kata like secara berulang kali. Banyak kata lain yang bisa menggantikan kata like, seperti fond of, interested in, keen on, into, dsb. So, be creative.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, selesai saya melalui tes speaking, saya merasa tidak puas dengan usaha yang saya lakukan. Sempat berpikir ‘ya sudahlah kalau harus diikhlaskan, 3 jutanya melayang begitu saja, ikhlaskan’. Tapi, tetap berdoa dan berharap. Allah itu maha baik dan sesuai prasangka kita. Alhamdulillah, band speaking saya merupakan band tertinggi diantara band komponen tes saya yang lain. Thank you Allah, thanks Margie. ๐Ÿ™‚

Keesokan harinya, tepat tanggal 17 Juni, saya kembali mendatangi IDP. Kali ini lebih pagi dibanding hari sebelumnya. Di jadwal yang tertulis, tes dimulai pukul 08:30 – 12:30. Masih sama dengan peraturan tes speaking, pada saat tes writing ini, kita diharapkan datang 30 menit sebelum tes dimulai. And, the same old story, saya telat bangun dan berangkat lagi. Alhamdulillah dapat aa Go-jek cepat, jadi langsung berangkat ke IDP. Di jalan sudah mempersiapkan ย mental jaga-jaga sampai IDP diusir karena telat. Alhamdulillah sampai IDP sekitar pukul 09:00 kurang, saya lihat para peserta tes masih menunggu di sekitaran kantor IDP. Jadi, saya masih bisa ikut tes, yeay! Permasalahan berikutnya adalah saya tidak membawa pensil HB. Sampai poin ini saya benar-benar mempertanyakan niat saya mengambil tes ini. Alhamdulillah, diberi kemudahan lain, pihak IDP menyediakan pensil HB untuk dipinjam peserta. Masuklah saya ke ruangan tes hanya berbekal pensil hasil pinjaman, pengserut, penghapus, paspor dan kartu penitipan tas. No phone, no wristwatch, no pencil case.

Masuk ke bagian pertama, yaitu Listening. Jujur, listening merupakan salah satu skill saya yang paling lemah. Saya seringkali hilang fokus saat listening. My mind often wanders during listening, bahkan saat mengajar sekalipun. Tapi Alhamdulillah, dapat menyelesaikan semua soal. Meski, lagi-lagi kurang puas terhadap hasil kerja sendiri. Bahkan skill yang membuat saya paling khawatir dari tes IELTS ini ya listeningnya. Dari hasil latihan mandiri, saya pernah hanya mencapai band 5,5 di bagian listening. Itu yang menjadi momok bagi saya. Alhamdullah lagi, memang benar-benar HasbunAllah wa ni’mal wakil, hasil listening saya merupakan nilai band tertinggi kedua saya setelah speaking.

Adapun, tips yang bisa saya berikan untuk listening ini adalah,

(1) Fokus. Fokus pada soal yang tertulis di modul dan rekaman yang diperdengarkan.

(2) Istirahat cukup. Ini masih berhubungan dengan poin pertama. Dengan istirahat cukup, kalian tidak akan merasa mengantuk di pagi harinya, jadi fokus kalian pun bisa maksimal. Akan sulit untuk fokus jika kalian masih mengantuk.

(3) Gunakan jeda waktu yang diberikan untuk mengecek soal dan kemungkinan jawaban yang diminta.

(4) Cek kembali seluruh jawaban, dimulai dari spellingnya, grammarnya hingga penempatannya sesuai dengan instruksi yang tertulis.

Setelah listening, tes dilanjutkan ke skill berikutnya, yakni reading. Kalau reading ini sih masalah teliti dan mengerti permintaan soal. Hanya ada tiga teks untuk bagian reading. Tapi ya itu, panjaaaaang bangeet teksnya, harus kuat bacanya haha.

Kalau untuk reading, tips dari saya sih perkaya vocabs, baca instruksi soal dengan seksama, double check your spelling, dan pintar-pintar manage waktu karena waktu yang tersedia sangatlah terbatas. Jadi, jangan sampai membuang waktu di satu soal yang sulit. Skip dulu soal yang sulit, kerjakan yang lain terlebih dahulu. Nanti kalau ada sisa waktu, baru kembali lagi ke soal tadi. Saya pribadi sih kemarin lumayan pede dengan hasil reading. Tapi, ternyata reading saya tidak lebih bagus dari listening haha. Reading menjadi nilai band urutan ke-3 setelah speaking dan listening.

Last but not least, writing! Ini nih yang jadi misteri haha. Susyaaah. Band writing saya merupakan band yang terkecil diantara band skill lainnya. Tapi Alhamdulillah, band ini masih masuk standar band yang disyaratkan kebanyakan uni dan beasiswa tujuan saya. Saya sebelumnya minta wejangan dari seorang teman yang sudah mengambil tes IELTS sebelum saya. We both agreed that speaking and writing are somehow subjective scores. Lebih lanjut, dia mewanti-wanti saya untuk focus more on the second task, karena memang bobot minimum wordsnya lebih besar dibanding task pertama. Tapi, karena saya keasyikan curhat di task dua, saya jadi terburu-buru mengerjakan task pertama, hehe.

Jadi kalau untuk academic module, task pertama itu biasanya kita diminta mendeskripsikan sebuah tabel/diagram/pie chart atau sejenisnya. Minimal kata untuk task ini adalah 150 kata. Tips dari saya yang paling penting untuk writing adalah membagi waktu. Waktu yang diberikan hanyalah 60 menit dan kita diminta membuat dua buah essay. Untuk task 1 ini kita hanya diminta untuk mendeskripsikan, which means stating facts sesuai dengan diagramnya, jadi dirasa tidak perlu untuk mencantumkan pernyataan yang sifatnya opini pribadi kita. Ini kesalahan saya, saya merasa words count saya kurang dari 150 kata sedangkan waktu sudah mepet tinggal beberapa menit lagi, saya lupa kalau task ini adalah deskripsi, jadi saya tuliskan kesimpulan yang bernada opini di akhir tulisan. Untuk task 1 ini, ambil poin-poin penting dari diagramnya, seperti titik tertinggi, terendah, trend dari diagramnya, kenaikan atau penurunan yang signifikan. Nah, perkaya vocabs untuk menyatakan keberagaman trend ini.

Lanjut ke task 2, disini kita diminta untuk membuat sejenis essay argumentasi mengenai topik yang diberikan. Biasanya sih dimintai pendapat setuju atau tidak mengenai sesuatu dan kemudian meng-elaborasi pendapat kita dengan alasan dan contoh yang bisa kita kemukakan yang berhubungan dengan alasan kita tersebut. Untuk task ini, biasakan merencanakan outline dari jawaban kita agar ide pokok tiap paragraf yang kita buat menjadi jelas, stay on track and not go astray. Kamu bisa bereksperimen dengan vocabs sophisticated yang kamu pelajari dengan bebas disini. Satu hal yang penting adalah kamu menempatkan vocabs tersebut secara tepat guna dan efektif. Maka dari itu saya sarankan jika waktu persiapan yang kamu miliki terbatas, lebih baik perkuat vocabs yang kamu sudah kuasai dengan mengecek kembali apakah penggunaan kata-kata tersebut selama ini sudah kamu gunakan secara tepat dan benar atau belum. Kemudian, karena ini essay, biasakan ada pembuka, argumentasi dan thesis lalu ditutup dengan conclusions atau summary ya. Oh iya, latihan paraphrase untuk penulisan conclusion atau summary-nya.

Jika kamu sudah melalui tes, dan berusaha semaksimal yang kamu mampu, biarkan sisanya Tuhan yang mengurus. Expect humbly from Al Wakeel.

Alhamdulillah, di pengalaman tes IELTS pertama ini dengan sedemikian berantakan persiapannya, saya masih dipercayai amanah oleh-Nya untuk mendapatkan nilai IELTS yang cukup memuaskan. Over all band saya 7.5 dengan rincian speaking 8, listening 7.5, reading 7 dan writing 6.5. Cukup untuk mendaftar ke mayoritas universitas yang saya tuju.

Jika ada tiga hal yang saya tekankan untuk para pengambil tes IELTS adalah spelling, pronunciation dan basic grammar. Maksud dari basic grammar ini tuh kaya bentuk plural singular. Karena salah menulis satu huruf saja, kita sudah pasti akan kehilangan poin.

Sekian review IELTS pertama saya. I’d really love to help any of you jikalau memang ada yang bisa saya bantu, just reach me through my email: hadiani31@gmail.com. Lastly, good luck!

Links belajar dan latihan IELTS gratis:

IELTS academic test preparation free online course by The University of Queensland and EdX course:ย https://www.edx.org/course/ielts-academic-test-preparation-uqx-ieltsx-1

Online course ini akan mulai tanggal 24 Juli nanti, ayo enroll sekarang! Selain belajar IELTS, biasanya ada forum untuk kamu bisa berinteraksi dengan pengambil online course yang lain dari seluruh dunia. Jadi bisa untuk dijadikan latihan dan saling tukar informasi juga.

IELTS Master by Macquarie University. Untuk online course ini biasanya diberikan gratis untuk test takers yang sudah mem-booking tes IELTS di IDP. Sayangnya online course ini hanya memberikan kita free satu modul saja, jadi harus memilih diantara empat modul skill yang ada. Jika mau keempatnya ya harus bayar lagi ๐Ÿ˜ฆ walaupun dapat diskon sih. Juga, online course ini hanya bisa diakses selama 30 hari setelah kita enroll.

IELTS preparation free online course by British Council:ย https://www.futurelearn.com/courses/understanding-ielts?utm_source=BC_org_website&utm_medium=web&utm_campaign=Understanding_IELTS3_April16#section-dates

Online course dari BC ini sudah dimulai dari tanggal 29 Mei 2017. Jadi bisa langsung enroll langsung.

Untuk mendapatkan soal-soal latihan IELTS bisa mengunduh atau membuka atau bahkan mengubek-ubek link-link berikut:

http://takeielts.britishcouncil.org/prepare

https://www.ielts.org/about-the-test/sample-test-questions

https://www.ielts-exam.net/Download-free-IELTS-resources.htm

http://selfstudymaterials.com/2017/05/12/cambridge-ielts-12-academic-answers-pdf-audio/

http://ieltsliz.com

http://www.ieltspodcast.com

 

Best regards,

Siti Nur Hardiani

13 Shawwal 1438 H – sesaat setelah melepaskan dan mengikhlaskan satu pintu dan yakin akan Dia bukakan pintu lainnya yang lebih baik. Insha Allah.

Advertisements