[Review Novel] “Mockingjay” (Buku Ketiga Trilogi The Hunger Games)

Hollaaa!

Hihi such a looong time not visiting and posting something on this blog and it’s 2015 already.

Time flies too fast these days.

Nevermind, sebelum hari pertama di tahun 2015 berakhir, kali ini saya ingin memberikan review sedikit mengenai buku yang beberapa bulan yang lalu sudah selesai saya baca. Hehe, selesai bacanya beberapa bulan lalu, baru nulis review-nya hari ini. Ya, saya memang sedang dalam not-in-the-mood-for-writing state yang separah itu. Hehe.

Judul Buku : Mockingjay

Penulis : Suzanne Collins

Penerbit : Scholastic

Tanggal Terbit : 24 Agustus 2010

Ok, let’s start!

Jadi, novel yang kali ini saya ingin review adalah novel yang berjudul Mockingjay. Sebenarnya Mockingjay bukanlah novel yang baru-baru ini diterbitkan. Novel ini dirilis pada tahun 2010, setelah sebelumnya 2 novel pendahulunya, yakni The Hunger Games dan Catching Fire dirilis pada tahun 2008 dan 2009. Yap, Mockingjay adalah “anak bungsu” alias buku ketiga yang sekaligus buku terakhir dari trilogi terkenal The Hunger Games karya Suzanne Collns. Jadi, buku ini sudah pasti bercerita mengenai ending dari perjalanan Katniss yang melawan Kapitol!

Saya nggak ngikutin trilogi The Hunger Games dari novelnya sih. Bahkan, nggak juga nonton film The Hunger Games di bioskop. Biasa, dapet stock film dari temen kuliah, hehe. Jadi, untuk dua judul novel awal, yakni The Hunger Games dan Catching Fire, saya tahu jalan ceritanya dari film. Nah, sedangkan untuk Mockingjay ini, saya sengaja membaca novelnya langsung karena kebetulan saat saya sudah selesai membaca novel ini, filmnya masih dalam tahap shooting dan baru dirilis tanggal 19 November 2014 kemarin. Itu pun hanya part-1 nya saja. Dan, lagi-lagi saya melewatkan filmnya di bioskop huhu. Padahal saya ingin membandingkan apakah film yang ketiga ini mampu mengadaptasi dan merealisasikan cerita dari novel dengan baik atau tidak (100% penilaian pribadi hehe). Bukan tanpa alasan, membaca komentar dan tanggapan dari para kritikus maupun penonton yang sekaligus pembaca novel trilogi The Hunger Games, film pertama dan film kedua yang ceritanya didasarkan pada cerita novel tersebut berhasil cukup baik merealisasikan apa yang para pembaca baca dan imajinasikan pada saat membaca cerita asal dari novel. Sayangnya, saya belum jodoh menonton Mockingjay Part 1 di bioskop, karena ketika saya pergi ke bioskop, film itu sudah tidak tayang, huhu.

Ini cover dari novel Mockingjay yang saya baca. Saya sendiri membaca versi asli, yakni versi Bahasa Inggrisnya, dan tidak tahu pasti apakah ada versi Bahasa Indonesianya atau tidak.

Mockingjay Cover

Seperti yang sudah saya tulis di paragraf sebelumnya, novel berjudul Mockingjay ini masih menceritakan perjuangan dan perjalanan Katniss Everdeen dalam menentang kekuasaan Kapitol di bawah pimpinan Presiden Snow. Bedanya, di novel ini para pembaca akan dibawa bertualang ke perjuangan akhir seorang Katniss Everdeen bersama teman-teman pemberontakannya yang baru. Jika di The Hunger Games dan Catching Fire, Katniss selalu kita lihat berjuang berdua bersama Peeta Mellark selama di arena Hunger Games maupun Quarter Quell. Di novel ini, mereka berdua berpisah. Katniss berhasil dibawa ke Distrik 13 sedangkan Peeta berhasil ditangkap oleh Kapitol. Tapi justru dengan perpisahan inilah Katniss menyadari bahwa Peeta se-berharga itu untuk dirinya. Bahwa selama ini dia menyepelekan kehadiran Peeta di hidupnya. (Yep, a lil dramatical romance found here!)

Di Kapitol sendiri, Peeta tidak lagi diperlakukan sebagai seorang victory. Dia justru diperlakukan layaknya seorang sandra dan umpan bagi Kapitol untuk menghentikan dan mengancam Katniss yang semakin berhasil meyakinkan ke-11 Distrik lainnya (Distrik 12 -tempat asal Katniss- sudah dihancurkan oleh Kapitol dan Pasukan Peacekeepers-nya sesaat setelah Katniss berhasil dibawa kabur ke Distrik 13) bahwa dia adalah Mockingjay, that she is the rebellion. 

Interesting point from the novel was Katniss’s character!

Dua film dari dua novel terdahulunya yang sudah saya tonton tetap tidak membuat saya terlalu tertarik terhadap main character dari cerita trilogi ini, yang tak lain adalah Katniss. Selain fisik Katniss yang menginspirasi saya untuk lebih mengurus dan merawat diri saya dengan lebih baik lagi, saya tidak merasa bahwa karakter Katniss ini menarik. I mean she is just that common stubborn, social-awkward, arrogant, unfriendly yet silently caring and aware-of-her-surrounding woman. Ya, intinya saya belum merasa tertarik dengan karakter Katniss yang saya dapat dari filmnya. Tapi kemudian, ketika saya membaca novelnya, I fell for Katniss! Dia masih keras kepala, dia masih arogan, tidak ramah, dan masih menyebalkan. Tapi, disisi lain, Katniss yang digambarkan di dalam novel ini merupakan Katniss yang memiliki sisi sarkastik yang mampu membuat saya tertawa. Dan sisi sarkastik itulah yang membuat saya tertarik pada karakter Katniss. ^^

Apa yang terjadi pada saya dan karakter Katniss di film dan di novel tidak terjadi pada saya dan karakter Peeta. Saya tetap tidak merasa bahwa karakter Peeta menarik. Bagi saya, Peeta itu terlalu “lunak nan lembek” sebagai seorang pria. Dia terlalu lemah untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan Katniss. Mungkin ini berhubungan juga dengan tipe ideal pria menurut saya juga, hehe. Karakter Peeta yang bagi saya terlalu “lemah” tersebut mungkin berkurang di cerita awal-awal Mockingjay ini. Peeta malahan berubah menjadi seorang “monster” yang membenci Katniss melebihi apapun. Itu terjadi setelah Peeta dicuciotak dan diprogram oleh Kapitol sebagai alat pembenci dan pembunuh Katniss nomor satu. Namun, jangan khawatir karena di akhir-akhir cerita The Old Peeta akan kembali, kok! Sayangnya, perubahan karakter Peeta yang cenderung dinamis ini tidak berpengaruh apa-apa pada saya. It didn’t do things to me. Too bad. Dalam hal karakter, Gale juaranya bagi saya. He is bold, tough, and sarcastic. That’s what a man should be, man! Haha hanya pendapat pribadi tentunya. Ya, meskipun terkadang Gale juga tidak kalah menyebalkan dari Peeta.

Ternyata Suzanne Collins masih percaya pada happy ending. Trilogi The Hunger Games pun ditutup dengan akhir yang cukup bahagia di novel ketiganya ini. Tapi kalau saya boleh jujur, I believe the author could do better than this, hehe. Bukannya saya tidak suka dengan akhir cerita bahagianya, namun ada beberapa bagian dari ending yang membuat saya bertanya-tanya “WHY????”Just my personal taste, perhaps.

Di akhir cerita, Katniss hidup bahagia bersama /drum roll/ Peeta! Pretty predictable, isn’t it? hehe. Yup, walaupun di novel ketiga ini saya sedikit dikecoh mengenai pada siapakah Katniss melabuhkan pilihannya -Gale atau Peeta?, saya sudah yakin sejak awal bahwa ujung-ujungnya akan tetap tentang Katniss dan Peeta.

Dalam epilog, diceritakan bagaimana pada akhirnya The Hunger Games dihapuskan namun tetap dipelajari oleh para murid di sekolah dan diceritakan pula bahwa pada akhirnya Katniss memiliki anak! Yup, Katniss digambarkan sedang memperhatikan kedua anaknya (satu putra dan satu putri) yang sedang bermain bersama. Satu hal yang pasti adalah, tidak mudah bagi Peeta untuk merayu Katniss untuk akhirnya mau memiliki anak. As Katniss said:

“It took five, ten, fifteen years for me to agree”.

There’s a saying said “Happiness is followed by sorrow”. Begitu pun dengan cerita ini, meskipun berakhir dengan bahagia, ada beberapa karakter favorit saya yang hidupnya harus berakhir sebelum sampai pada ending cerita. Berikut adalah karakter-karakter tersebut:

  1. Yang pertama adalah Boggs, pemimpin tim propaganda Katniss. Yang membuat saya tertarik pada Boggs adalah cara kepemimpinannya yang bijaksana. Poin plus bagi Boggs adalah dia berpihak dan percaya pada Katniss, hehe.
  2. Karakter berikutnya adalah Prim, adik perempuan Katniss. Prim digambarkan sebagai seorang gadis yang cerdas, khususnya dalam hal medis. Poin plus bagi Prim adalah bagaimana cara dia melihat dan memahami suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda dengan mempertimbangkan berbagai kondisi dan keadaan. She is that thoughtful for her age. Sayangnya, Prim ini such a her-cat-fool. Dia bahkan pernah hampir membahayakan nyawanya sendiri hanya untuk menyelamatkan kucingnya.
  3. Dan yang terakhir adalah Finnick, teman seperjuangan Katniss sejak di Quarter Quell sampai di Distrik 13. Finnick is just that charming. Tanpa bisa saya jelaskan, tapi Finnick memang semenarik itu bagi saya, hehe. Mungkin karena kesetiaan dan ketulusan yang ada dalam karakter Finnick ini.

There are also some amusing things that I found from this novel. They are:

  1. Peradaban dan kehidupan bawah tanah Distrik 13 yang terhitung sangaaaat canggih (bagi saya). Bayangkan saja, meskipun hidup di bawah tanah, mereka tetap bisa melakukan hal-hal yang dilakukan oleh manusia yang hidup di atas tanah pada umumnya. Penduduk Distrik 13 tetap bisa bercocok tanam. Tetap memiliki perlengkapan militer yang tak kalah canggih dengan milik Kapitol. Kehidupan mereka pun diatur sedisiplin itu, mulai dari makan, pakaian, sampai waktu yang mereka miliki.
  2. Twisted story antara Katniss, Presiden Snow (Presiden Panem) dan Presiden Coin (Presiden Distrik 13). Katniss yang sejak awal berencana membunuh Presiden Snow dengan tangannya sendiri berubah membunuh Presiden Coin, di detik-detik pengeksekusian Snow di depan publik. Sedangkan Snow sendiri mati tanpa alasan yang pasti. Alasan kejadian ini? Find out by yourself hehe.
  3. Lagu “The Hanging Tree” yang merupakan lagu terlarang. Agak merinding sih baca lirik lagunya, hehe.

So, I think that’s all! Thank you for reading and visiting!

Hope you have a great day and Happy New Year!

Bye 🙂

Advertisements