Senja tuk Pelangi

Namanya Pelangi, senyumnya indah.
Matanya jujur.
Suaranya mendamaikan.
Tangisannya menjelaskan.

Dia bukanlah seorang wanita dewasa dengan pengalaman sebanyak pasir.
Pun, bukan pula seorang remaja dengan impian setinggi Andromeda.
Umurnya 11 bulan, bahkan satu tahun pun belum utuh.
Bahkan berjalan dengan sempurna pun belum terkuasai.
Bahkan berbicara sesuatu yang ingin dikatakan pun belum terucap.
Namun yang pasti, deritanya, tangisannya, kekuatannya menjelaskan betapa luar biasanya dia.

Di umurnya yang bahkan satu tahun pun belum utuh, dia berjuang untuk tetap hidup.
Untuk tetap menghidupkan harapan serta impian kedua orang tuanya untuk tetap memiliki seorang anak perempuan pertama yang cantik, pintar, dan membanggakan.
Impian serta harapan yang hampir redup karena leukimia yang hidup parasit di tubuh Pelangi.

Pelangi namanya, namun senjalah yang ia sukai.
Tiap senja tiba, dia selalu menangis.
Merengek kedua orang tuanya untuk membawanya keluar rumah sekedar tuk melihat senja muncul.

Apa yang terjadi pada Pelangi, bukanlah hal yang biasa.
Mungkin, ada sesuatu istimewa dalam diri Pelangi.
Tuhan mengizinkannya mengalami hal seberat ini di usianya yang belum satu tahun pun utuh.

Di usianya yang belum satu tahun pun utuh itu, Pelangi harus sudah merasakan bagaimana hawa rumah sakit.
Hawa rumah sakit di pagi, siang, kemudian malam hari. Kemudian pagi lagi, siang lagi, dan malam lagi.
Di usianya yang belum satu tahun pun utuh itu, Pelangi harus akrab dengan jarum suntikan.
Dikala banyak orang dewasa bergerombol mengatakan “aku takut jarum suntik”.
Pelangi tanpa bisa berontak, tanpa bisa menolak, dan mungkin dia masih tidak mengerti apa itu jarum suntik, dia pasrah dengan segalanya.
Hanya tangisan yang dapat menjelaskan perasaannya.
Hanya tangisan yang menjelaskan apa yang dia pikirkan.
Hanya melalui tangisan, tangisannya menjelaskan.

***

Senja hari ini, senja ke-15 yang Pelangi nikmati di Rumah Sakit.
Di kawasan taman Rumah Sakit, setiap sore hari, disanalah Pelangi biasanya melewatkan senja bersama kedua orang tuanya.
Terkadang, tak hanya Pelangi beserta kedua orang tuanya saja yang melewatkan senja disana.
Terkadang, datang nenek, kakek, serta keluarga besar Pelangi yang menyengajakan datang kesana hanya untuk menemani Pelangi melewatkan senja.

“Entah tinggal berapa senja lagi yang bisa ia lewatkan dengan senyum dan tawanya yang renyah?”
Pertanyaan-pertanyaan pesimis seperti itulah yang biasanya orang-orang tanyakan saat melihat Pelangi tertawa dan tersenyum bahagia tiap kali matahari mulai tenggelam.
Pertanyaan-pertanyaan pesimis seperti itulah yang mampu menjatuhkan air mata di pipi kedua orang tua Pelangi.

Seperti sore itu.
Pelangi selesai menjalani cek darah.
Pelangi tak menangis sore ini, dia nampak sangat tenang.
Wajahnya lebih cerah dari biasanya.
Dia nampak lebih ceria dari kemarin.
Dan satu hal yang lebih istimewa, dengan lantang dia menyebutkan kata “mama” dan “papa” ala bayi pada umumnya.

Bahagia tak terkira nampak dari senyum kedua orang tua Pelangi.
Seakan mereka lupa bahwa ada sesuatu yang salah dengan anak mereka.
Mereka pun membawa Pelangi jalan-jalan keliling Rumah Sakit sore ini.
Kemudian berhenti di sudut taman lain.

Di sudut taman lain inilah, Pelangi tertawa renyah saat ada seorang kakek mengajaknya bermain.
Matahari mulai terbenam.
Pelangi tak lagi tertawa renyah seperti saat seorang kakek mengajaknya bermain.
Pelangi tertidur pulas di pangkuan ayahnya.
Ibunya memegangi tangan kanan Pelangi dan topi pink Pelangi.
Mereka bertiga menikmati matahari terbenam di sebuah kursi di sudut taman Rumah Sakit.

Ibu Pelangi memegangi tangan Pelangi sembari menyanyikan lagu sebelum tidur kesenangan Pelangi.
Pelangi tertidur pulas hingga membuat tangannya menjadi dingin.
Ibunya terkejut saat melihat wajah anaknya yang lucu itu berubah pucat.
Lebih terkejut Ayahnya saat menyadari bahwa anaknya sudah tidak lagi bernafas di pangkuannya.
Dokter sudah tak lagi mampu berbuat apa-apa saat Pelangi dibawa ke ruang UGD.

Pelangi sudah tenang dengan senjanya yang terakhir.
Senja tadi merupakan senja terakhir tuk Pelangi.
Senja terakhir yang ia lewatkan dengan penuh kebahagiaan.
Senja terakhir yang ia lewatkan dengan kasih sayang orang tuanya.

Selamat jalan Pelangi.
Akan selalu ada bahagiamu, senyummu, serta candamu di tiap senja.
Selalu ada cinta untukmu.

Ttd.
Ibumu…

***********************************************************************************************************

Cerpen ini didedikasikan untuk semua ibu, ayah, anak, nenek, cucu, kakek, dan tuk semua orang yang pernah merasakan kehilangan ditinggal oleh anggota keluarnya karena Penyakit Kanker.
Cerpen ini juga terinspirasi oleh semua korban Kanker yang sudah sangat kuat berjuang melawan penyakit ini, baik yang pada akhirnya sukses bertahan ataupun yang pada akhirnya menyerah.
Especially, for my Mom :*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s