Dan bersyukurlah…

Akhirnyaaa…nulis lagi di blog, setelah banyak hal melelahkan yang saya lalui minggu-minggu ini. Khususnya hari ini, entah ada apa tapi badan saya terasa remuk redam dan lemah gemulai bak penari gurun pasir ternama (apasih).

Niat hati sih abis menunaikan tugas dari mamah (yaitu manasin sayur plis) dan tugas dari Alloh (solat isya), mau langsung tidur, kasian sih sama badan sendiri di suruh kerja melulu sampai kuota energinya mencapai titik VE (VERY EMPTY) atau TE (TOO EMPTY). Tapi, dari kemarin dibayang-bayangi bayangan supaya nulis di blog lagi. Semacam blogku ini menuntut perhatian dan kasih sayang lebih. OK! CUKUP CURHATNYA!

Sudah baca dengan jelas kan judul posting-an saya kali ini. Jadi, saya ingin membicarakan diri saya sendiri kali ini #eehh.
Eittss jangan dulu berburuk sangka atau ganti channel lain dulu dong mentang-mentang bakat narsis saya mulai muncul. haha…
Meskipun saya ada bakat narsis, saya tidak setidak-punya-malu itu koo untuk cuap cuap ngomongin diri sendiri. haha…

Ditemani dengan suara merdunya Sabrina dan lagu-lagu recyclenya yang menenangkan jiwa raga, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada kalian yang sempet ataupun nyempet-nyempetin waktu buat baca posting-an ini. Tentu, saya pun akan menanyakannya kepada diri saya sendiri dong. Jadi, pada intinya sambil baca pertanyaannya sambil tanyain ke diri sendiri yaaah dan kemudian jawab dong pastinya.

Pertanyaan #1
Seberapa sering kita merasa iri dengan segala sesuatu yang orang lain miliki (barang-barang, hidup, pacar, fisik, dll)??

Pertanyaan #2
Seberapa sering kita merasa minder saat berbicara dengan seseorang yang secara finansial maupun fisikal lebih dari kita??

Pertanyaan #3
Seberapa sering kita meratapi nasib hidup kita saat ingin memiliki sesuatu yang tak mampu untuk kita miliki??

Pertanyaan #4
Seberapa sering kita berpikir bahwa hidup yang kita miliki ini tidak sempurna??

Pertanyaan #5
Seberapa sering kita mengeluh atas apa yang sudah kita dapatkan??

Pertanyaan #6
Seberapa sering kita mengangkat dagu terlalu atas sampai-sampai bermimpi untuk menggenggam matahari saat tangan kita tetap basah??

Well, try to be honest when we answer those questions above!

Saya tidak terlalu membutuhkan jawaban, sebenarnya yang saya ingin saya tekankan saat kita mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi adalah proses dimana kita bisa menentukkan jawabannya. Proses yang saya maksud adalah proses dimana kita mencoba untuk mengingat-ingat kembali apa yang telah kita lakukan selama kita masih diberi perpanjangan masa aktif untuk hidup di dunia ini.

Semakin banyak jawaban ‘sering’ di list jawaban kita, maka bisa dipastikan bahwa kita adalah termasuk orang-orang yang kurang atau bahkan tidak bersyukur sama sekali.
Bersyukur memang bukan suatu hal yang gampang untuk dilakukan, dan bahkan untuk bisa menjadi seseorang yang bersyukur itu membutuhkan penataran diri yang cukup lama karena terkait dengan faktor kebiasaan, karakter diri sendiri, dan pencitraan terhadap diri sendiri.

Pernah berpikir tentang semua hal yang sudah Tuhan kita masing-masing berikan kepada kita?
Pernah menghitung berapa jumlah harga yang harus Tuhan kita masing-masing keluarkan untuk memberikan segala anugerahnya kepada kita?

Saya tidak bermaksud untuk menggurui ataupun merasa benar atas diri saya sendiri, saya hanya ingin menyampaikan apa yang harusnya disampaikan, saya hanya ingin mengingatkan (termasuk mengingatkan diri sendiri) bahwa betapa pentingnya kita bersyukur.

Pernah denger atau tau atau baca buku The Secret? Disana dijelaskan secara gamblang apa peranan penting dari bersyukur.
Tapi, rasa-rasanya tanpa membaca buku itu pun, sejak kita kecil kita sudah diajarkan untuk selalu bersyukur yaa oleh orang tua kita. Mungkin kalau waktu kecil kita taunya dengan sebutan “bilang terima kasih”.
Beranjak besar dikit, belajar tentang agama, kita pasti juga bakal ditekankan tentang betapa pentingnya bersyukur.

Nah, kalau sudah seperti itu, kenapa masih banyak keluhan di hari-hari kita? kenapa masih sangat sulit untuk mengucapkan terima kasih dan mengucap syukur saja atas apa yang sudah Tuhan kita berikan kepada kita? Padahal, apakah mengucap syukur dengan sungguh-sungguh membutuhkan energi besar seperti saat sedang lari 3 keliling lapangan sepak bola bertaraf internasional? Apakah mengucap syukur dengan sungguh-sungguh membutuhkan waktu berjam-jam seperti saat kita sedang bekerja?

Jawabannya, TIDAK!
Bersyukur itu gampang, bersyukur itu gratis, bersyukur itu ga bikin cape, bersyukur itu ga harus lama!
Tapi, kenapa yah untuk melakukannya dengan ikhlas, susahnya minta ampun (termasuk saya).

Seringkali saya mengeluh kenapa badan saya ga sekurus si ini, kulit saya ga semulus si itu, warna kulit saya ga seputih si ini, wajah saya ga semenarik, seatraktif, dan secantik si itu, saya ga sekaya si ini, saya ga seberuntung si itu, dan masih banyak lagi kata-kata ga se- si ini si itu yang terpakai.
Kalau dilihat dari struktur kalimatnya, kalimat keluhan itu membosankan dan ga kreatif. Iya ga?!!
Yaa liat aja kata-kata kerja dan subjeknya selalu sama.
GA SE- <— kata kerja konstan dalam kalimat keluhan.
SI INI, SI ITU <— subjek konstan yang selalu berupa manusia. (makanya lain kali ngeluh itu bandinginnya sama binatang!)

Mau tau akibat dari apa kita terus mengeluh dan susah sekali bersyukur??
Jawabannya adalah karena seringkali kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang-orang yang 'diatas' kita.
Dengan kata lain, kita seringkali mengangkat dagu kita terlalu tinggi sampai-sampai tidak melihat ada batu di bawah kita.

Sekarang, gini sistematisnya;
Saat kita terlalu banyak melihat ke atas, kita akan terus ingin ke atas dan terus ke atas.
Saat kita ingin terus ke atas, kita ga akan pernah merasa cukup dengan ketinggian dimana kita berada sekarang.
Dan saat menghadapi kenyataan bahwa tenaga yang kita miliki tidak mampu membawa kita ke puncak, kita dihadapkan dengan perasaan depresi atas kegagalan dan ketidakmampuan kita untuk berada di atas.

Jadi, kesimpulannya adalah jangan terlalu banyak melihat ke atas karena akan mengakibatkan pegal-pegal di sekitar leher. #eehhh
Kita boleh melihat ke atas sesekali saja, itupun hanya sebagai motivator kita untuk menjadi yang lebih baik tiap harinya.
Jangan jadikan hal tersebut sebagai pembanding diri.
Kalaupun ingin membandingkan diri, bandingkanlah diri kita dengan orang-orang yang berada di 'bawah' kita.
Dengan begitu kita akan sadar betapa banyak dan berharganya yang sudah kita miliki saat ini.
Menjadikan kita akan senantiasa bersyukur tiada henti dan berhenti untuk mengeluh.

Kalau kalian nonton acara Hitam Putih edisi kamis kemarin (19/5), bintang tamu yang hadir adalah atlit basket nasional favoritonya saya yaitu Denny Sumargo. Di sebuah segmen dia bilang gini kurang lebih;

"…setiap temen saya bertanya Den, kenapa sih lo itu keliatannya selalu bersyukur atas hidup lo? Jawaban saya simple; BANDINGKANLAH DIRI KITA DENGAN ORANG YANG ADA DI 'BAWAH' KITA…"

Jadi, mulailah perbanyak lihat ke bawah dan dengan demikian mulailah bersyukur.

Tiap kita merasa fisik kita tidak sempurna hanya karena hidung kurang mancung, betis besar, ukuran paha berlebihan, dan sebagainya, yuk kita lihat banyak loh saudara-saudara kita diluar sana yang terlahir tidak sempurna, namun tetap merasa hidupnya sempurna dan tetap bisa atau bahkan pintar bersyukur.

Tiap kita merasa finansial kita tidak mencukupi hanya karena tidak bisa merasakan masakan seharga ratusan atau bahkan jutaan rupiah dan kita tidak bisa membeli pakaian bermerk internasional yang seharga ratusan juta rupiah, yuk kita lihat betapa banyaknya saudara-saudara kita yang untuk makan saja butuh usaha keras terlebih dahulu dan tak jarang mereka harus berpuasa tanpa berbuka ataupun sahur selama berhari-hari karena tak mampu membeli makanan yang hanya seharga beberapa ribu rupiah, mereka pun tak jarang hanya mempunyai satu stel pakaian, namun mereka tetap bisa bersyukur selama mereka masih diberi kesehatan, dan mereka masih bisa tersenyum.

Mestinya kita malu dengan mereka yang selalu bisa bersyukur meskipun betapa beratnya ujian yang Alloh berikan kepada mereka. Karena mereka memiliki keyakinan kuat bahwa Tuhan mereka menyayangi mereka sehingga ga ada satu pun alasan bagi mereka untuk tidak bersyukur.

Jadi, mulai bersyukur yuuuk ๐Ÿ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s