Kartini = Kebaya????

kartini

kartini

Salah satu kegiatan tambahan perbulan saya adalah mewakili sang ibunda tercinta untuk pergi arisan. Yaa semenjak mamah jatuh sakit, semua kewajiban sosialisasi hampir semuanya diwariskan kepada saya sebagai anak bungsunya. Itung-itung belajar dan latihan jadi calon ibu PKK gitu lah ceritanya. Meskipun tidak semua hal yang biasa mamah lakukan saya lakukan juga, contohnya saja dalam hal masak-memasak yang masih dikerjakan oleh mamah, yaa bukannya ga mau masak. Tapi, daripada nantinya malahan ga ada makanan yang layak untuk dimakan coba. hehe…

Kembali ke jalan cerita seharusnya!

Seperti biasa lah yaah kalau anak muda, enerjik, dinamis, fleksibel, efektif dan efisien seperti saya begitu masuk ke dalam sebuah komunitas ibu-ibu PKK yang anggun, manis nan jelita namun agak genit (ups*) langsung mati gaya, mati kutu, dan mati lampu tiba-tiba. Terdiam, terbungkam, duduk di pojokan dengan sinyum simpul di wajah, itulah gambaran saya tiap kali gabung ke ‘event’ arisan ini. Namun tak dapat kupungkiri, sesi ramah-tamah (versi ibu-ibu) yang biasa saya sebut sebagai sesi makan-makan (versi anak muda), merupakan sesi favorito. Dan sesi paling menegangkan sekaligus sesi puncaknya adalah sesi pendendangan “MARS PKK”. Dimana pose andalan saya adalah bibir komat kamit ga jelas biar kesannya ikut nyanyi gitu deh. hehe

Tiba di sesi pengumuman dari ibu PKK yang sekaligus ibu RT. Beliau sore itu mengumumkan akan ada perlombaan busana bagi ibu-ibu. Mulailah ibu-ibu beradu argumentasi, dan saya hanya menjadi penonton setia sajalah sambil sekali-kali menyunggingkan senyuman untuk hal yang sebenarnya ga lucu-lucu amat (semacam apresiasi). Dari peraduan argumentasi (bahasanya) itu, dapat saya ambil kesimpulan bahwa Hari Kartini = menggunakan kebaya dan lalu berlenggak lenggok di depan juri.

Saya langsung berpikir aja, apa hanya sebatas itukah peringatan Hari Kartini? Sebatas pemakaian kebaya berjamaah lantas memeragakannya dengan berlenggak lenggok di depan juri atau teman-teman, and that’s it! Jikalau penggunaan kebaya hanya dijadikan simbol filosofikal saja sih ga jadi masalah. Tapi, pada kenyataannya, paradigma Hari Kartini yaa ga lebih dari penggunaan Kebaya.

Terlalu berharga ga sih perjuangan yang Kartini lakukan jaman dulu, kalau hanya dibandingkan dengan penggunaan kebaya satu hari.

Dimana semangat Kartini saat masih ada perempuan Indonesia yang mendapat kekerasan dari suaminya sendiri? Kemana perginya perjuangan Kartini saat masih banyak TKW yang disiksa lahir batin oleh majikannya? Kemana perginya nafas Kartini saat masih banyak perempuan Indonesia yang terlalu ‘menjual murah’ dirinya kepada laki-laki?

Sedangkan kita bisa menyebutkan bahwa sosok Kartini adalah perwakilan sosok perempuan-perempuan Indonesia.

Untuk semua perempuan Indonesia, mari kita cintai diri kita sendiri dan hargai diri kita sendiri!
Jangan sia-siakan apa yang telah Alm. Mba Kartini perjuangkan untuk kita semua yaaa πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s