Semurah itukah nyawa manusia Indonesia?

Mengingat kembali perkataan dosen saya dalam suatu mata kuliah satu minggu yang lalu yang mengatakan bahwa nilai nyawa manusia Indonesia itu murah. Pertanyaan besar muncul dalam pikiran saya. “Benarkah seperti itu?” dan seperti mendapatkan jawaban atas pertanyaan tersebut, keesokan harinya saya langsung diperlihatkan jawabannya. Mau tahu jawabannya? Dan, ya memang benar saja apa yang dikatakan oleh dosen saya tersebut.

Saya bukan tidak mencintai negara saya sendiri ataupun mengejek keadaan negara ini beserta semua isinya, namun saya hanya ingin sedikit mengkritisi kenyataan yang memang saya lihat, saya dengar, dan bahkan saya alami sendiri. Kalaupun saya berniat untuk menjelek-jelekkan manusia Indonesia, toh saya adalah manusia Indonesia juga kan? Saya cinta pada negara ini dan dalam keadaan apapun negara ini, I still love and proud to be Indonesian.

Saya adalah satu dari sekian banyaknya manusia Indonesia yang memanfaatkan keberadaan angkutan umum secara maksimal (gimana ga maksimal, kemana-mana naek angkot terus :D). Tak heran dan sudah menjadi tontonan saya sehari-hari untuk melihat keadaan Indonesia yang sebenar-benarnya benar. Melihat begitu banyaknya anak putus sekolah yang ujung-ujungnya ngamen, banyaknya manula yang tidak terurus yang menyebabkan mereka mengemis, banyaknya pengangguran-pengangguran yang kemudian salah jalan, dan masih banyak lagi. Dan diantara sekian banyaknya kecarutmarutan tersebut, satu hal yang paling membuat saya miris, yaitu tentang keselamatan hidup semua manusia Indonesia saat mereka di perjalanan (di jalanan) dan saya spesifikasikan menjadi saat orang-orang menggunakan kendaraan umum.

Pernah membayangkan duduk di depan (sebelah supir) angkot dengan keadaan angkot yang tak berpintu? Jika belum pernah, tanyakanlah kepada saya bagaimana rasanya, karena saya pernah merasakannya (KASIAN!!!). Jikalau bukan karena kebutuhan waktu yang mendesak, saya lebih memilih untuk menyayangi badan dan nyawa saya dibanding harus bertaruh nyawa dan malu tentunya. Yaa saya langsung berpikir, seburuk inikah Indonesia? Tapi itulah kenyataannya.

Setiap hari saya menggunakan angkot Cimahi-Ledeng sebagai transportasi pulang pergi ke kampus. Angkot Cimahi-Ledeng adalah sebuah angkot yang cukup istimewa bagi saya, karena angkot tersebut adalah angkot yang akan membawa anda merasakan banyak kejutan dan sensasi-sensasi dalam hidup. Mulai dari, rasanya menunggu, rasanya duduk berhimpitan sehimpit-himpitnya dengan kuota tempat duduk yang benar-benar pas dengan postur badan anda, sampai mengenalkan anda dengan bagaimana rasanya berebutan oksigen dengan lebih dari 15 orang dalam angkot tersebut. Semua itu hanyalah main sensations-nya aja, bonus-bonus lainnya belum dihitung; bau ketek orang lain, bau keringet, bau rokok (bagi anti-rokok seperti saya), sampai pelecehan seksual yang juga pernah terjadi pada saya. Satu hal yang lebih istimewa yang akan anda temui adalah pemandangan dimana anda akan melihat 3 orang lebih yang bergelantungan di pintu masuk angkot. Bapak-bapak, kakek-kakek, anak laki-laki SD, SMP, SMA sampai yang udah kuliah, dan bahkan seorang perempuan bergelantung sepanjang jalan bukanlah hal yang aneh yang saya saksikan. Mereka bukan sedang atraksi pemirsa, bukan juga untuk menghindari ongkos full karena meskipun mereka bergelantung, mereka tetap membayar full sesuai dengan jarak yang mereka tempuh.

Apa yang mereka lakukan pasti mempunyai alasannya dan saya yakin alasan pasti mereka adalah bahwa mereka butuh waktu. Mereka ingin tepat waktu untuk sampai tempat tujuannya. Tapi, apakah saat kita memburu waktu, hal yang jauh lebih penting (nyawa) harus kita abaikan? Percuma kita sampai di tempat tujuan kita dengan keadaan yang tidak mendukung untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Satu hal lagi yang membuat miris adalah, kenapa supir angkot tersebut memperbolehkan dan bahkan terkadang menyuruh penumpangnya untuk bergelantungan? Padahal, saat sesuatu terjadi kepada para penumpangnya selama masih berada di angkot tersebut, supir angkotlah yang pastinya pertama kali dimintai pertanggungjawabannya. Dengan kata lain, keadaan para penumpang angkot selama di jalan adalah tanggung jawab supir angkot dan tanggung jawab diri sendiri tentunya. Lalu, kenapa hal seperti itu masih bisa terjadi? Apakah nyawa seseorang ga lebih dari Rp. 4000,- di Indonesia ini?

Baiklah, jika kita mengubah sistem sosial yang sudah seperti ini mungkin agak susah dan sulit tentunya. Tapi, kalau kita coba rubah pemikiran kita sendiri dulu mungkin tidak menutup kemungkinan Indonesia akan lebih baik. Mari kita anggap dan tanamkan dalam pemikiran kita bahwa diri dan nyawa kita itu berharga, harga nyawa kita mahal, dan bayangkan saja kalau kita sampai ga ada, mau jadi apa negara ini dan lihatlah betapa sedihnya Bapak Presiden kita saat dia kehilangan salah satu warga negaranya yang penting seperti kita dan mungkin saja seluruh dunia akan memasang bendera setengah tiang saat terjadi sesuatu kepada kita sebagai sebuah tanda kesedihan (sedikit lebay mungkin). Dengan menganggap diri kita mahal dan berharga, kita akan mulai memperlakukan diri kita dengan penuh hormat, menjaga badan dan nyawa kita dengan hati-hati, dan kita pun ga mau kalau harga nyawa kita lebih murah dari harga baso kopma yang Rp. 7000/porsi (jadi lapar *eh). Yuuk jadikan kita adalah manusia Indonesia yang mahal dan berharga. Saat semua orang berpikir seperti ini, pasti banyak orang yang ga mau mempertaruhkan nyawanya hanya untuk sampai ke tempat tujuan tepat waktu. Kalau alasannya takut kesiangan yaa bangun dan berangkat lebih awal dong dari biasanya, kalau alasannya ga punya uang buat ongkos dobel, yaa jalan kaki aja toh masih punya kaki lagian jalan kaki itu jauh lebih sehat dari naek angkot, naek motor, atau naek mobil ko dan pula resiko kecelakaan jalan kaki masih jauh lebih rendah dari yang naek kendaraan :D.

Mari kita mulai sayangi dan hargai diri kita untuk menjadikan Indonesia dan hidup ini lebih baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s