Papan itu bertuliskan; ‘SAYA MALU DATANG TERLAMBAT’

Pagi ini, saya datang terlambat pada saat mata kuliah Sociolingiustics, mata kuliah yang membutuhkan tekad, niat, dan usaha keras. Sociolinguistics bukanlah mata kuliah biasa, bahkan bisa disebut sebagai mata kuliah yang spesial. Satu-satunya mata kuliah yang tidak memberikan toleransi terlambat satu menit pun.

Telat/kesiangan/terlambat atau apapun itu namanya sebenarnya hal yang saya ga suka, tapi entah kenapa masih terkadang saya lakukan. Khususnya minggu ini. Entah ada apa dengan tidur saya minggu ini. Saya sudah jarang begadang, tapi tidur saya selalu melebihi batas wajar. Entah lah. Perasaan bersalah atas ketololan diri ini pun nempel terus di hati. Apalagi kalau udah ngeliat kertas chapter report yang harusnya udah dikumpulin pagi tadi, tambah keseeeeel. Mungkin bagi orang lain yang bukan saya tentunya, apa yang saya tulis ini sedikit berlebihan. ‘lebay banget sih nih orang, baru telat sekali doang juga. Dunia ga akan kiamat juga kali kalo lo telat!’, mungkin pada mikir kaya gitu yaa pas baca ini? Saya sendiri juga mikir gitu ko. Tapi, kalau pemikiran salah ini terus saya pelihara itu yang lebih berbahaya.

Telat bukan hanya tentang ga boleh masuk, ga ngumpulin chapter report dan kehilangan absensi bagi saya. Tapi, masalah kedewasaan, tanggung jawab, dan konsekuensi. Kenapa saya sebut masalah kedewasaan? Kurang lebih 5 bulan lagi, umur saya 20 tahun. Kalau sikap saya masih menganggap kesiangan merupakan hal sepele dan biasa, terus apa bedanya dong saya dengan anak TK atau anak SD yang kalo telat tinggal bawa orang tua dan that’s it masalah beres. Sedangkan untuk perlakuan saya mengharapkan perlakuan yang sesuai dengan umur saya.

Poin berikutnya adalah tanggung jawab. Saya udah bisa dibilang dalam fase dewasa awal. Orang dalam fase dewasa awal, pikirannya udah bukan waktunya buat mikirin tentang dirinya saja. Tapi juga mikirin orang-orang yang selama ini berperan dalam hidupnya. Begitupun dengan saya, hidup saya sekarang ini bukan hanya tentang menyenangkan diri saya sendiri, tapi juga tentang orang lain yang berarti dihidup saya; mamah, keluarga, dll. Kalau saat saya telat, saya hanya berfikir tentang saya sendiri, terus apa bedanya saya dengan saya yang 2 tahun atau 3 tahun kemaren yang masih mikir kalau telat itu ‘hanya tentang saya’ saja.

Dan poin terakhir adalah tentang konsekuensi. Konsekuensi yang harus saya terima dan setujui saat telat itu banyak looh dan kebiasaan saya semasa SMP atau SMA, saat saya telat saya cenderung mulai menyalahkan sistem. ‘Kepagian masuknya lah’, ‘guru piketnya ga baik lah’,dsb. Mencari kambing hitam atas dasar toleransi diri. Tapi, berhubung saya berani bilang kalau saya adalah menusia di tahap dewasa awal, udah bukan zamannya bagi saya untuk selalu mencari kambing hitam atas setiap ketelatan saya. Saya anggap semuanya ya salah saya sendiri yang kurang well prepared, dan disitulah letak konsekuensi inti dari semuanya. Satu hal yang nyentil hati saya adalah saat saya baca sebuah kalimat yang jelas tertera di papan di sebuah SMA di Jl. Cihanjuang. Papan itu bertuliskan; ‘SAYA MALU DATANG TERLAMBAT’. Bagaikan sebuah tamparan bagi saya yang udah kuliah.

Sebenarnya, sepanjang hari ini saya berusaha menghibur hati yang sakit ini dengan berbagai metode. Tapi, memang belum ada satupun metode yang cocok untuk dipakai di situasi ini. Huuh….

Advertisements

One comment on “Papan itu bertuliskan; ‘SAYA MALU DATANG TERLAMBAT’

  1. Aquaine says:

    aihhh…
    bener-bener curhatan yang mengandung pesan yang mendalam…
    b”b *dua thumbs*
    #menunggu curhatan selanjutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s