Writing: enjoy it? Or, dread it?

One fascinating question I found this evening while starting off my online writing course is whether writing is enjoyable or dreadful. Personally, I merely treat writing as one of those things I usually do in my leisure time, especially when my head is full of things I want to express. Thus, I always prefer writing personal journals on this personal blog.

Unfortunately, having a preference of writing personal journals and keeping a blog is not a guarantee that I find writing easy. So, is it an enjoyable activity? Yes, when I can write anything I want without any prompts or requirements. However, when it comes to academic writing, I will voluntarily take steps backward and agree upon anyone stating that it is difficult. It is still so vivid in my imagination when I had to struggle so much to finish my final paper, or when I felt confident with the short essays I made for IELTS, yet the score is not more than band 6.5.

Therefore, I am eager to learn more about academic writing as I am currently working in education field and planning to continue my study. Besides, business writing can also be very beneficial for me as professional setting is where I spend most of my time in at the moment.

 

 

Advertisements

IELTS pertamaku: That’s messed up!

Sesuai dengan judulnya, persiapan tes IELTS pertama saya memang cukup berantakan, hehe. Disaat postingan orang lain di blognya menunjukkan betapa teratur dan disiplinnya mereka dalam mengatur jadwal latihan dan belajar IELTS, here I am thinking “my post would be the messed-up version of it”.

Sesaat setelah keseluruhan rangkaian tes IELTS pertama ini selesai dan saya merasa ragu dengan usaha yang telah saya berikan, saya bernadzar untuk membuat postingan review tes IELTS saya jika hasilnya nanti mencapai/melebihi standar nilai yang disyaratkan beasiswa dan perguruan tinggi yang saya tuju. Alhamdulillah, HasbunAllah wa ni’mal wakil. Berikan usaha terbaik dan biarkan Tuhan yang mengatur sisanya.

Tepat tanggal 4 Juli di Stasiun Yogyakarta, saat menunggu kedatangan kereta Prameks tujuan Wates, saya mencoba mengecek hasil IELTS saya secara online. Dan, Alhamdulillah… hasilnya melebihi nilai yang dijadikan persyaratan minimum perguruan tinggi dan beasiswa yang saya tuju. Alhamdulillah juga, bisa dibilang band IELTS saya aman digunakan untuk tujuan apapun. Jadilah saya nekat membuat post ini. Insha Allah, nantinya post ini akan merangkum sedikit tips dan trik IELTS (dari yang saya alami, baca, tonton, pelajari dan dengar dari berbagai sumber) serta nanti saya cantumkan kompilasi links yang bisa diakses free untuk latihan/mendapatkan materi latihan IELTS. Besar harapan saya, postingan ini bisa bermanfaat.

Apa itu IELTS? Kenapa harus IELTS?

Pasti sudah tidak asing lagi dengan nama TOEFL, kan? Untuk melanjutkan sekolah, membuat skripsi, melamar pekerjaan, bahkan untuk naik jabatan/naik gaji, sebagian orang akan membutuhkan sertifikat TOEFL, yang hanya bisa didapat setelah mengambil tes TOEFL. Sertifikat TOEFL sendiri sertifikat yang bisa dijadikan ‘bukti’ kemampuan seseorang menggunakan Bahasa Inggris.

Nah, sebenarnya selain TOEFL, masih ada banyak tes lainnya untuk mengukur kemampuan Bahasa Inggris seseorang. Tapi yang paling dikenal orang Indonesia ini ya TOEFL dan mungkin TOEIC (yang merupakan masih saudara kandung TOEFL). Saya sendiri pun yang kuliahnya di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, baru benar-benar ‘ngeh’ akan keberadaan IELTS setelah lulus kuliah dan mulai mencari informasi mengenai perbeasiswaan. Mungkin sayanya saja yang kudet.

Jadi, meskipun sama-sama mengukur kemampuan berbahasa inggris seseorang, TOEFL dan IELTS ini berbeda cukup jauh dari segi format tes dan harga (haha). Berbeda dengan TOEFL yang memiliki tiga jenis yang berbeda dengan range harga dari yang murah sampai paling mahal (TOEFL prediction test, TOEFL ITP dan TOEFL iBT), IELTS ini ya cuma ada satu jenis dan satu harga; tes IELTS asli dan harganya mahal. Jikapun ada embel-embel IELTS yang murah, biasanya itu hanya mock test (tes percobaan) yang hasilnya tidak bisa digunakan.

IELTS itu sendiri singkatan dari International English Language Test System. Jadi kalau mau secara gampangnya membedakan IELTS dari TOEFL ini adalah, kalau TOEFL itu America banget sedangkan IELTS itu UK, Europe dan Australia banget. Cara lain untuk membedakan kedua tes ini adalah format tesnya. Jika TOEFL umumnya menggunakan format klasik pilihan ganda, IELTS menggunakan berbagai jenis pertanyaan mulai dari blank filling, matching, dsb. Sesuai dengan namanya, TOEFL iBT yang merupakan singkatan dari TOEFL internet based test, mengharuskan kita untuk menggunakan koneksi internet dalam pengerjaannya, yang berarti seluruh komponen tes yang terdiri dari writing, reading, listening dan bahkan speakingnya dikerjakan di depan komputer. Sebaliknya, IELTS merupakan paper based test, jadi ya pakai kertas untuk pengerjaan listening, reading dan writingnya. Sedangkan speaking tes di IELTS ini dilakukan secara langsung oleh seorang native speaker yang khusus ditugaskan oleh pihak IELTSnya.

Soal harga, TOEFL iBT tidak terlalu berbeda jauh dengan IELTS, terakhir saya cek website ETS (penyelenggara dan ‘pemilik’ tes TOEFL) harga satu kali tes TOEFL iBT itu sekitar 2,5 juta, sedangkan untuk IELTS kemarin, saya harus mengikhlaskan 2,98 juta, hiks. Untuk harga ini sepertinya tergantung nilai tukar Rupiah terhadap Dollar juga, semakin tinggi nilai Dollar ya semakin mahal.

Adapun alasan saya memilih IELTS dibanding TOEFL adalah karena (1) Negara tujuan perburuan S2 saya adalah Inggris dan Australia, dan proficiency test yang diutamakan di kedua negara ini adalah IELTS (meskipun mereka juga menerima TOEFL iBT) dan (2) sebagai tutor dan pengajar Bahasa Inggris, sudah seharusnya saya mengetahui jenis-jenis tes resmi pengukuran kemampuan Bahasa Inggris. Saya sudah cukup familiar dengan TOEFL, jadi sekarang saya juga harus familiar dengan IELTS.

Tahapan mendaftar IELTS.

Saya sebenarnya tinggal di Cimahi, sebuah kota kecil yang bertetanggaan dengan Bandung. Ingin rasanya mencari penyedia tes yang dekat dengan tempat tinggal dan tempat bekerja saya. Sayangnya, tidak ada lembaga penyedia tes IELTS di Cimahi, sehingga akhirnya saya mengikuti tes di Bandung. Hanya ada dua pilihan institusi yang bisa dipilih dalam membooking tes IELTS di Bandung ini; British Council dan IDP. Untuk di kota lainnya, tersedia pula IALF sebagai pilihan penyedia tes IELTS. Karena semasa kuliah dulu beberapa kali terlibat menjadi panitia acara seminar dan konferensi yang disponsori British Council, saya sebenarnya berencana mendaftar IELTS di British Council. Di BC ini harga tes IELTS pas di angka 2,8 juta, dan tempat tesnya pun cukup dekat dari daerah rumah saya, yakni di Hotel Aston Pasteur. Sayangnya, belum jodoh dengan British Council karena kecerobohan saya yang lupa mendaftar. Di peak season perburuan beasiswa seperti sekarang-sekarang ini, harus berlomba-lomba mengamankan kursi tes IELTS sesuai dengan deadline beasiswa yang kamu tuju. Perlu diingat, hasil IELTS baru akan keluar 13 hari kerja setelah tes.

Kembali ke pengalaman saya, pendek cerita, saya akhirnya mendaftar tes di IDP, itupun sepertinya kursi tes terakhir yang Alhamdulillah berhasil saya dapatkan. Pendaftaran dilakukan secara online, dan pembayaran pun saya lakukan secara online juga (menggunakan VCN debit BNI). Sebenarnya pembayaran bisa lewat transfer juga, tapi karena saya pikir lebih efisien dan praktis menggunakan VCN, jadi jatuhlah pilihan saya pada cara ini.

Setelah mendapatkan konfirmasi bahwa kita sudah terdaftar, kita tinggal menunggu e-mail dari staff institusi tempat kita mendaftar mengenai jadwal speaking dan writing test-nya. Jadwal speaking tes ini akan berbeda-beda tergantung ketersediaan interviewer. Ada yang speaking testnya setelah writing test, ada yang satu hari sebelum tes writing dan ada pula yang sesudah writing test. Saya sendiri kedapatan tes speakingnya sebelum writing test.

Persiapan menjelang tes IELTS hingga hari H.

Saya mendaftar tes IELTS sekitar pertengahan Mei sedangkan tesnya akan diadakan pertengahan Juni. Jadi, otomatis saya memiliki waktu sekitar satu bulan untuk persiapan. Saya juga sudah mempersiapkan materi-materi latihan dan jadwal latihan sendiri. Sayang, dengan beban pekerjaan yang tiba-tiba overload dan kegiatan Bulan Puasa yang cukup padat, kegiatan latihan IELTS mandiri saya hanya bertahan satu minggu dan saya baru bisa me-review dan me-resume hasil latihan saya terdahulu saat H-2 tes.

Saya berlatih IELTS ini dari beberapa website dan online course gratis yang bisa dicek di bawah ini:

Komponen tes yang saya lalui pertama kali adalah tes speaking, yang dilaksanakan satu hari sebelum written test di tanggal 17 Juni 2017. Hari itu hari Jumat, saya harus izin beberapa kelas dari pekerjaan saya. Di surel yang saya dapatkan, dituliskan jadwal tes speaking saya dimulai pukul 12:40, namun saya diminta datang 30 menit sebelumnya. Karena saya yang bangun terlambat dan tidak mendapatkan Go-jek, ditambah mang ojek yang saya tumpangi membawa saya nyasar dulu, saya gagal untuk sampai di kantor IDP jam 12:10. Alhasil, staff IDP sudah menelepon saya beberapa kali untuk mengingatkan saya mengenai tes speaking ini. Alhamdulillah, saya tepat sampai IDP pukul 12:40 dan langsung difoto dan diambil sidik jari dan langsung masuk ruangan tes.

Siang itu, interviewer saya bernama Margie(?). Saya lupa namanya 😁. Margie ini ramah, jadi ya saya sedikit curhat saja saat ditanya kabar saya hari itu. Satu pertanyaan ke pertanyaan lain hingga akhirnya sesi tes speaking pun berakhir. Dan, yang saya rasakan adalah kurang puas. Sepanjang perjalanan menuju tempat kerja, saya mengingat kembali jawaban saya dan menyayangkannya ‘why didn’t I say this and that instead?!”. Sampai akhirnya saya pasrahkan saja, dan perbanyak doa.

Sedikit tips dari saya untuk speaking test ini adalah,

(1) Relax. Santai saja. Percuma kalau kamu sudah persiapkan banyak idiom atau vocabs yang sophisticated tapi kalau kamu gugup, semua idiom dan vocabs itu akan menguap entah kemana saat kamu membutuhkannya. Anggap saja examiner di depan kamu ini teman atau kenalan baru yang kamu akan ajak ngobrol. Jadi, kamu bisa lebih santai. Atau, jika kamu punya trik khusus untuk menghilangkan gugupmu sih, ya lakukan saja seperti apa yang biasanya kamu lakukan. Kalau saya biasanya menenangkan diri dengan mengatur nafas dan dzikir dalam hati.

(2) 3S: Senyum, Sapa dan Salam. Bersikaplah yang ramah. Sejatinya, examiner yang ada di depan kita itu adalah orang juga yang sangat mungkin untuk menjadi subjektif. Saya sendiri 4 bulan sekali mengetes kemampuan speaking murid-murid saya melalui interview yang kurang lebih formatnya hampir mirip dengan tes speaking IELTS ini. Terasa oleh saya sendiri saat menjadi seorang examiner, murid yang ‘memperlakukan’ saya sebagai teman mengobrol dan berdiskusi selama tes lebih berkesan dan mudah diingat dengan murid yang hanya menganggap saya sebagai seorang examiner. Tentu ini sangat berpengaruh terhadap penilaian saya.

Ini mengingatkan saya akan pesan dari salah satu dosen saya semasa kuliah, “dosen itu, mau seobjektif bagaimana pun, masih manusia yang memiliki sifat subjektif, jadi sentuhlah sisi subjektif itu meskipun sedikit”. Saya rasa hal ini bisa diaplikasikan untuk apa saja selama yang kita hadapi manusia yang pasti memiliki perasaan. Lagipula, kita sedang diuji kemampuan bahasa yang sejatinya digunakan untuk berkomunikasi. Jadi, yang paling penting untuk diingat adalah bagaimana efektifnya kita berkomunikasi.

Menggunakan vocabs dan idioms yang canggih tentu akan membantu, namun dengan tepat dan efektif menggunakan vocabs dan idioms itulah yang lebih penting. Berbeda dengan TOEFL, dimana kamu berhadapan dengan komputer yang tidak memiliki perasaan, speaking IELTS ini bisa kamu manfaatkan semaksimal mungkin untuk berinteraksi dengan sang examiner, tentu dalam batasan wajar ya.

(3) Latihan. Practice makes perfect. Bahasa itu masalah kebiasaan. It takes time. Jadi, membiasakan diri untuk berbicara Bahasa Inggris itu ya penting. Coba cari daftar pertanyaan-pertanyaan yang biasanya ditanyakan saat tes speaking IELTS. Bisa dicari dengan keyword “questions ielts speaking test” di Google. Dan berlatihlah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan merekam jawaban kita dan mendengarkan ulang. Dari sini kita bisa mengecek sendiri apakah pronunciation kita sudah tepat dan apakah jawaban kita sudah menjawab pertanyaan atau belum. Atau jika kamu punya teman yang memiliki kemampuan bahasa inggris yang lebih baik darimu, kamu bisa meminta tolong kepada mereka.

(4) Elaborate your answer. Jadi, kalau menjawab pertanyaan, jangan hanya menjawab seperlunya. Contohnya, jika ditanya apakah pendidikan itu penting atau tidak untukmu, biasakan memberikan jawaban ya atau tidak dan langsung diikuti dengan alasan. Jangan hanya menjawab ya atau tidak, dan kemudian menunggu ditanya examiner mengenai alasannya.

(5) Expand your vocabs. Tidak harus melulu vocabs yang ilmiah dan canggih. Cukup vocabs yang bervariasi. Contohnya, saat kita menyatakan kesukaan, coba untuk menghindari penggunaan kata like secara berulang kali. Banyak kata lain yang bisa menggantikan kata like, seperti fond of, interested in, keen on, into, dsb. So, be creative.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, selesai saya melalui tes speaking, saya merasa tidak puas dengan usaha yang saya lakukan. Sempat berpikir ‘ya sudahlah kalau harus diikhlaskan, 3 jutanya melayang begitu saja, ikhlaskan’. Tapi, tetap berdoa dan berharap. Allah itu maha baik dan sesuai prasangka kita. Alhamdulillah, band speaking saya merupakan band tertinggi diantara band komponen tes saya yang lain. Thank you Allah, thanks Margie. 🙂

Keesokan harinya, tepat tanggal 17 Juni, saya kembali mendatangi IDP. Kali ini lebih pagi dibanding hari sebelumnya. Di jadwal yang tertulis, tes dimulai pukul 08:30 – 12:30. Masih sama dengan peraturan tes speaking, pada saat tes writing ini, kita diharapkan datang 30 menit sebelum tes dimulai. And, the same old story, saya telat bangun dan berangkat lagi. Alhamdulillah dapat aa Go-jek cepat, jadi langsung berangkat ke IDP. Di jalan sudah mempersiapkan  mental jaga-jaga sampai IDP diusir karena telat. Alhamdulillah sampai IDP sekitar pukul 09:00 kurang, saya lihat para peserta tes masih menunggu di sekitaran kantor IDP. Jadi, saya masih bisa ikut tes, yeay! Permasalahan berikutnya adalah saya tidak membawa pensil HB. Sampai poin ini saya benar-benar mempertanyakan niat saya mengambil tes ini. Alhamdulillah, diberi kemudahan lain, pihak IDP menyediakan pensil HB untuk dipinjam peserta. Masuklah saya ke ruangan tes hanya berbekal pensil hasil pinjaman, pengserut, penghapus, paspor dan kartu penitipan tas. No phone, no wristwatch, no pencil case.

Masuk ke bagian pertama, yaitu Listening. Jujur, listening merupakan salah satu skill saya yang paling lemah. Saya seringkali hilang fokus saat listening. My mind often wanders during listening, bahkan saat mengajar sekalipun. Tapi Alhamdulillah, dapat menyelesaikan semua soal. Meski, lagi-lagi kurang puas terhadap hasil kerja sendiri. Bahkan skill yang membuat saya paling khawatir dari tes IELTS ini ya listeningnya. Dari hasil latihan mandiri, saya pernah hanya mencapai band 5,5 di bagian listening. Itu yang menjadi momok bagi saya. Alhamdullah lagi, memang benar-benar HasbunAllah wa ni’mal wakil, hasil listening saya merupakan nilai band tertinggi kedua saya setelah speaking.

Adapun, tips yang bisa saya berikan untuk listening ini adalah,

(1) Fokus. Fokus pada soal yang tertulis di modul dan rekaman yang diperdengarkan.

(2) Istirahat cukup. Ini masih berhubungan dengan poin pertama. Dengan istirahat cukup, kalian tidak akan merasa mengantuk di pagi harinya, jadi fokus kalian pun bisa maksimal. Akan sulit untuk fokus jika kalian masih mengantuk.

(3) Gunakan jeda waktu yang diberikan untuk mengecek soal dan kemungkinan jawaban yang diminta.

(4) Cek kembali seluruh jawaban, dimulai dari spellingnya, grammarnya hingga penempatannya sesuai dengan instruksi yang tertulis.

Setelah listening, tes dilanjutkan ke skill berikutnya, yakni reading. Kalau reading ini sih masalah teliti dan mengerti permintaan soal. Hanya ada tiga teks untuk bagian reading. Tapi ya itu, panjaaaaang bangeet teksnya, harus kuat bacanya haha.

Kalau untuk reading, tips dari saya sih perkaya vocabs, baca instruksi soal dengan seksama, double check your spelling, dan pintar-pintar manage waktu karena waktu yang tersedia sangatlah terbatas. Jadi, jangan sampai membuang waktu di satu soal yang sulit. Skip dulu soal yang sulit, kerjakan yang lain terlebih dahulu. Nanti kalau ada sisa waktu, baru kembali lagi ke soal tadi. Saya pribadi sih kemarin lumayan pede dengan hasil reading. Tapi, ternyata reading saya tidak lebih bagus dari listening haha. Reading menjadi nilai band urutan ke-3 setelah speaking dan listening.

Last but not least, writing! Ini nih yang jadi misteri haha. Susyaaah. Band writing saya merupakan band yang terkecil diantara band skill lainnya. Tapi Alhamdulillah, band ini masih masuk standar band yang disyaratkan kebanyakan uni dan beasiswa tujuan saya. Saya sebelumnya minta wejangan dari seorang teman yang sudah mengambil tes IELTS sebelum saya. We both agreed that speaking and writing are somehow subjective scores. Lebih lanjut, dia mewanti-wanti saya untuk focus more on the second task, karena memang bobot minimum wordsnya lebih besar dibanding task pertama. Tapi, karena saya keasyikan curhat di task dua, saya jadi terburu-buru mengerjakan task pertama, hehe.

Jadi kalau untuk academic module, task pertama itu biasanya kita diminta mendeskripsikan sebuah tabel/diagram/pie chart atau sejenisnya. Minimal kata untuk task ini adalah 150 kata. Tips dari saya yang paling penting untuk writing adalah membagi waktu. Waktu yang diberikan hanyalah 60 menit dan kita diminta membuat dua buah essay. Untuk task 1 ini kita hanya diminta untuk mendeskripsikan, which means stating facts sesuai dengan diagramnya, jadi dirasa tidak perlu untuk mencantumkan pernyataan yang sifatnya opini pribadi kita. Ini kesalahan saya, saya merasa words count saya kurang dari 150 kata sedangkan waktu sudah mepet tinggal beberapa menit lagi, saya lupa kalau task ini adalah deskripsi, jadi saya tuliskan kesimpulan yang bernada opini di akhir tulisan. Untuk task 1 ini, ambil poin-poin penting dari diagramnya, seperti titik tertinggi, terendah, trend dari diagramnya, kenaikan atau penurunan yang signifikan. Nah, perkaya vocabs untuk menyatakan keberagaman trend ini.

Lanjut ke task 2, disini kita diminta untuk membuat sejenis essay argumentasi mengenai topik yang diberikan. Biasanya sih dimintai pendapat setuju atau tidak mengenai sesuatu dan kemudian meng-elaborasi pendapat kita dengan alasan dan contoh yang bisa kita kemukakan yang berhubungan dengan alasan kita tersebut. Untuk task ini, biasakan merencanakan outline dari jawaban kita agar ide pokok tiap paragraf yang kita buat menjadi jelas, stay on track and not go astray. Kamu bisa bereksperimen dengan vocabs sophisticated yang kamu pelajari dengan bebas disini. Satu hal yang penting adalah kamu menempatkan vocabs tersebut secara tepat guna dan efektif. Maka dari itu saya sarankan jika waktu persiapan yang kamu miliki terbatas, lebih baik perkuat vocabs yang kamu sudah kuasai dengan mengecek kembali apakah penggunaan kata-kata tersebut selama ini sudah kamu gunakan secara tepat dan benar atau belum. Kemudian, karena ini essay, biasakan ada pembuka, argumentasi dan thesis lalu ditutup dengan conclusions atau summary ya. Oh iya, latihan paraphrase untuk penulisan conclusion atau summary-nya.

Jika kamu sudah melalui tes, dan berusaha semaksimal yang kamu mampu, biarkan sisanya Tuhan yang mengurus. Expect humbly from Al Wakeel.

Alhamdulillah, di pengalaman tes IELTS pertama ini dengan sedemikian berantakan persiapannya, saya masih dipercayai amanah oleh-Nya untuk mendapatkan nilai IELTS yang cukup memuaskan. Over all band saya 7.5 dengan rincian speaking 8, listening 7.5, reading 7 dan writing 6.5. Cukup untuk mendaftar ke mayoritas universitas yang saya tuju.

Jika ada tiga hal yang saya tekankan untuk para pengambil tes IELTS adalah spelling, pronunciation dan basic grammar. Maksud dari basic grammar ini tuh kaya bentuk plural singular. Karena salah menulis satu huruf saja, kita sudah pasti akan kehilangan poin.

Sekian review IELTS pertama saya. I’d really love to help any of you jikalau memang ada yang bisa saya bantu, just reach me through my email: hadiani31@gmail.com. Lastly, good luck!

Links belajar dan latihan IELTS gratis:

IELTS academic test preparation free online course by The University of Queensland and EdX course: https://www.edx.org/course/ielts-academic-test-preparation-uqx-ieltsx-1

Online course ini akan mulai tanggal 24 Juli nanti, ayo enroll sekarang! Selain belajar IELTS, biasanya ada forum untuk kamu bisa berinteraksi dengan pengambil online course yang lain dari seluruh dunia. Jadi bisa untuk dijadikan latihan dan saling tukar informasi juga.

IELTS Master by Macquarie University. Untuk online course ini biasanya diberikan gratis untuk test takers yang sudah mem-booking tes IELTS di IDP. Sayangnya online course ini hanya memberikan kita free satu modul saja, jadi harus memilih diantara empat modul skill yang ada. Jika mau keempatnya ya harus bayar lagi 😦 walaupun dapat diskon sih. Juga, online course ini hanya bisa diakses selama 30 hari setelah kita enroll.

IELTS preparation free online course by British Council: https://www.futurelearn.com/courses/understanding-ielts?utm_source=BC_org_website&utm_medium=web&utm_campaign=Understanding_IELTS3_April16#section-dates

Online course dari BC ini sudah dimulai dari tanggal 29 Mei 2017. Jadi bisa langsung enroll langsung.

Untuk mendapatkan soal-soal latihan IELTS bisa mengunduh atau membuka atau bahkan mengubek-ubek link-link berikut:

http://takeielts.britishcouncil.org/prepare

https://www.ielts.org/about-the-test/sample-test-questions

https://www.ielts-exam.net/Download-free-IELTS-resources.htm

http://selfstudymaterials.com/2017/05/12/cambridge-ielts-12-academic-answers-pdf-audio/

http://ieltsliz.com

http://www.ieltspodcast.com

 

Best regards,

Siti Nur Hardiani

13 Shawwal 1438 H – sesaat setelah melepaskan dan mengikhlaskan satu pintu dan yakin akan Dia bukakan pintu lainnya yang lebih baik. Insha Allah.

Crafting; my newfound love

I used to mention boring and basic stuffs like sleeping, swimming, reading and eating whenever someone asks me about what I like doing in my leisure time. Although I do love doing those aforementioned activities, no doubt they make me sound tremendously boring.

Good news!

I just figured out a newfound love that can be added to my lame list of hobbies.

It was crafting that I fell in love with.

Crafting is actually not something new I do. I always love making things with my own hands ever since I was a little girl. I suddenly remembered how I used to make my own barbie gowns from whatever pieces of clothes I found at home. I also love doing origami. Creating something using your own hands until you finally can get what you intended it to be is really satisfying. Moreover, when you can make money out of doing it. It seems like you get the best of both worlds.

Thus, I just admitted that crafting is one of my hobbies recently. I even make an instagram account dedicated to my passion towards it (even though I still don’t have sufficient time to create more contents there orz). I might post some tutorials in this blog too sometime in the future.

Crafting can be in many forms, can’t it? I found my interest keeps changing all the time haha. It started with simple things like making paper bags, bookmarks, notebooks, and then bracelets. Just recently, I stumbled upon crochet videos and I fell head over heels with it at the drop of a hat. Yet, until this post was written, I still hold on to my belief that crocheting is not easy as I haven’t even been able to make a simple rectangular cloth from it.

I used to treat crafting as my merely fun activities to kill my leisure or procrastinating time. I didn’t take it seriously until in March, when I decided to sell my charms bracelet in accordance with my fangirl charity project. Although it did not sell that much, but I was so happy when people who bought the bracelets informed me that they love the bracelets. I usually give away my crafting creations to my students or my friends at work. Thus, selling it and having people actually bought it are far cry crom what I’ve ever imagined. It makes me so happy though to think that my bracelets can reach other countries. Yeay! So when will the creator?

That was such a precious experience for me and makes me want to learn it seriously yet in a fun way. I want to try to look for and probably join crafting communities established around my town. Yet, I’m not that social as a person. I’m not good at interacting with new people I meet for the first time. Thus, I feel like getting caught between two stools. Well, for now, I guess it’s still safe and fun to do it on my own way. Who knows in the future? 🙂

I ❤ Wonderful Indonesia

Going from one video to another video just to stumble upon another video on YouTube isx” always a favorite thing to do at times like this (fyi, it’s almost 3 a.m. here~ bye sleeping beauty and detoxification time!).

It’s somehow usually unuseful video that I find on YouTube, but not tonight! Starting from watching people’s reaction videos to some Indonesian singers, I end up watching people’s reaction videos to “Wonderful Indonesia” series; official promotional videos showing off the beauty of my country that seem like to be released months ago but was just discovered by me tonight. I failed so much as an Indonesian (what’s new? I’ve already felt so since years ago).

But, really, hats off to the people involved in creating the videos! Watching the videos hits me where it hurts the most. My country is an amazing land! My country is really beautiful! I love my country, I really do! My country, Indonesia, really deserves much better government.

I barely watch tv. I don’t know whether the videos are also (ever) broadcasted on Indonesian national tv stations. But, I really hope government could regularly broadcast those kinds of videos as often as possible on national tv stations. Indonesian people, especially citizen like me (those people who already feel skeptical and hopeless to the current situation of this country), somehow need to be reminded of how much blessings this country has and how much beauty this country offers. Therefore, no reason for not feelimg proud of being a part of it. Therefore, no reason for not looking after this country with what you could do.

I can’t even bring myself to watch all videos. I know I’m gonna tear up, and with how much little time I will have for sleeping, crying is the last and the least option I can afford for my health.

Somehow, I’m glad that I chose to be a teacher. This way, I could, at least, be useful for my students who are Indonesia’s future generation. This way, I could, at least, do something for Indonesia through my job, though I still have long lists of I really wanna do for this country that I haven’t realized yet. May I be given time and opportunity to make them real in the future. Ameen!

I’ll pray hard that this country can be taken care of by people who genuinely love and care about it. I ❤ wonderful Imdonesia!

Amyway, I’m sleepy already. Good night! (will update later).

[MOVIE REVIEW] Train to Busan (부산행)

I was so late, I know.

It was probably in July the hype for this movie arose in  the country where the movie was produced, South Korea. As someone who is quite updated about its pop culture, all I knew is that this movie is a zombie movie. And, as what my friends said, it was terrific.

I have never been a fan of zombies-related movie. The last time I tried to watch “I am Legend”, I couldn’t get myself watch the movie until the end. Also, when most of my college friends become “The Walking Dead” enthusiasts, I’m not interested to check the series out, not even a single episode of it. I might sound so boring at this point, haha.

Honestly, I’ve been retiring from watching any horror and thriller movies since long time ago. It just struck me one day that what’s the point of watching those movies when I couldn’t even enjoy it fully. What’s the point of watching it when half of the movie, I will close my eyes and my ears. Haha. Call me a scaredy-cat, but I will just take what I could take. 😁

Thus, when this movie was hyped up anywhere, including my country, I was still not interested to watch it. Until it was on last Monday, when one of my students told me excitedly her experience of watching the movie. She even gave me spoilers. Thanks to her, that night, I decided to watch the movie after halting it for so many times.

So, how was the movie?

For someone who is neither a fans of zombies movie nor likes to watch zombies movie, this movie is simply a great movie. The plot was focused and delivering and it also persuades the audience, especially me, to feel the tense and the frustration depicted in the movie.

As the title sugests, “Train to Busan” has a clear plot focus from the beginning to the end. The story simply focuses on how the survivors in the train make their way to Busan to save their lives from the zombie outbreaks happening in the country, which unfortunately got spread to the passangers in the train too.

The plot of the story doesn’t go astray even though if the movie wants, it has many chances to develop other side stories. But, no. You will only get what you paid for the title, and that’s good. As a critic from The New York Times said, “Often chaotic but never disorienting…”, the story consistently revolves around Seok Woo, a divorced fund manager and also a father of Soo An, who struggles to bring his daughter to Busan, in which the place where Soo An’s mother lives. At first, you will feel how frustrating to see how selfish Sook Woo is, regardless his handsome and hot papa vibe haha. Fortunately, he is a dynamic character who will develop to be a better character when he later meets the other characters, like Sang Hwa and his wife Seong Kyeong, the baseball player Yong Guk and his girlfriend Jin Hee, and a homeless man. They will later cooperate to save each other from zombies until they can reach Busan, where a safe quarantine zone has been successfully established. As simply as the focus of the story, the movie is enjoyable and entertaining as well.

Not only feeling the tense and the thrill, you will also wonder about the nature of human beings served in the movie. This movie doesn’t only emphasize the zombie-ness aspects but also philosophical and social aspects of the character. The development of the characters is well-written and easily becomes the key of engaging the audiences.

That is what I love the most from the movie. Every main character is given their own distinctive personality. That is relatable to how human nature actually works in emergency situation. There are characters who are willingly to be helpful for others from the start to the end. There are also characters who are selfish from the start to the end. Lastly, there are also characters who positively change from the selfish ones to be the helpful and considerate ones. This reminds me to a saying I heard the other day, “You will know and see the real character of human being when s/he in the state of danger or emergency.” 

Although somehow it is really frustrating for me to watch the character who is very dedicated being selfish without any break in the movie, I know that it can be a reality. It is plausible. I believe each and every human being living on the earth has that selfish side. It’s just the proportion of the selfishness that differs from one person to another. So, if I could give “the most selfish character ever” award for one character, I really want to give it to the COO Yon Suk. Wow! I give my biggest applause for his selfishness. He throws other people under the bus for saving himself without hesitation, exactly from the start when his character is introduced to the last seconds his character is finished. What a dedication! Just when I was happy thinking I wouldn’t have to see his face in the last couples of minutes of the movie, he appeared again bursting my happy bubbles.

Sadly, Yoon Suk is probably just an example of a small fish in a big pond where other selfish people eat each other just for securing themselves. That’s human in reality nowadays, sadly.

Other than the bad Yoon Suk, we will also be introduced to the In Gil and Jong Gil siblings. They are middle-age sisters who seem loving and taking care of each other so well, especially Jong Gil who seem to sacrifice a lot for other people. Even when she changes to be a zombie, she still looks like a nice zombie haha. Nice people will always look different, yup! 😁

This movie is entertaining yet frustrating at the same time haha. My heart still beats faster than it should be for half of an hour after I finished watching it. I don’t recommed you to watch the movie with your grandparents hehe. And a little bit spoiler, the ending is somehow not like what you probably want or expect. However it’s safe to say that it is still a happy ending with a little tragic and sad touch.

So, will I recommend this movie to other people?

Yes. I definity will. Especially for those zombie-movies lovers and enthusiats. This movie is probably not that zombie compared to other zombie movies out there but it gives you more than zombie to enjoy and to think about.

As much as I love this movie, this movie indeed has flaws too. I saw how this movie is said to owe “World War Z” a lot. I tried to watch some chunks of “World War Z”, then yea I found some of the shots from “Train to Busan” look similar to “World War Z”. Yet, I don’t think I will give “World War Z” a try to watch, hehe. Sorry Brad Pitt, you are hot and all but enough zombies for me before I start freaking out over zombies in my real life.

Another funny thing is when my another student discussed the movie with me this afternoon. She pointed out how a pregnant woman, who is Seong Kyeong, can run here and there without so much problems. Haha. As an unknowledgable and unexperienced woman who has never been pregnant, I could only say, “Well, that’s a movie after all, dear.”

Regardless, this movie is still worth a watch since it generally received favorable reviews and ratings from variety of sites like IMDb, Metacritic and Times of India. I myself will probably rate this movie 8 out of 10.

So, where can I watch the movie?

This movie was released in July in Korea, and one or two months later in other countries. In my country, Indonesia, this movie was released last month if I’m not mistaken. Also, it was not released to all cinemas, like XXI. It was limitedly released in certain cinema, like Blitz Megaplex, and I don’t know if this movie is still on play in cinemas or not. So, you should check it out yourself to know it hehe. I myself watch it online, since I saw it is already available on online sites, with English subtitles too. You can already download it too, I guess.

So, in case you want to have some spoilers from this movie, you can read from its Wikipedia page. But trust me, you will not regret your 118 minutes you spent after watching the movie. Or at least for me hehe. If you find this movie disappointing, then at least we can agree that Gong Yoo looks handsome and hot here. Haha. Anyway, here are the official trailers of the movie:

Trailer 1

Trailer 2

And, here is one of the posters released for the movie. So, have a good watching experience  🙂

images

[NOVEL REVIEW] The Statistical Probability of Love at First Sight

The title. Yup, that’s what got me the most from this novel. It sounds interesting and, somehow, scientific haha. For someone who still believes in love at first sight, I found the title amusing. It was kinda promising.

So, does the title really represent the story of the novel?

Since I am a fan of the title, I had a pretty huge anticipation and expectation toward the story. Unfortunately, after reading it, I found it a bit disappointing. The title is only one of many ‘taglines’ or quotations worth the citation from the novel.Moreover, it can only be found on page 103, which is already the end of the story. Lesson learned; hoping too much is never good.

This novel written by Jennifer E. Smith offers you a simple, cute and sweet story revolving around Hadley, Oliver and their own families respectively. There are not any unnecessary exaggerated side stories. Everything is depicted and explained proportionally. Everything is just fine.

Though never heard of the author’s masterpiece before, I honestly enjoyed my time reading this novel. The story, as fine as it is, is a bit cliché for an old woman like me haha. Especially when the main characters-Hadley and Oliver, are way younger than me. They are still teenagers! Well, reminiscing my good old teenage days.

I don’t know about other people, but neither when I was 18 nor now, I never meet a boy who willingly brings my suitcase here and there in our first meeting. I haven’t met a boy or a man who is that gentleman, particularly here, in my country haha. So, I can’t relate to the sweet and a bit magical love story between Hadley and Oliver. It was magical, unreal and fast. Despite having different origins (Hadley, the American girl and Oliver, the British boy), it only took 24 hours for them to upgrade their relationship level from completely two strangers to lovers. It was only 24 hours for the story between them to unfold yet they already had three kisses. That was too fast for a woman like me lol. Nevertheless, I still find it cute. Their love story, although much predictable, still triggers me to keep reading the novel until the end. The moment I realized that the story isn’t up to my expectation, and vice versa, I threw away my expectation and rather considered it as a light reading time. It’s the typical reading where you can just enjoy everything without the need to too much thinking.

Aside from Hadley and Oliver’s love story, this novel also provides a bit heavier conflicts regarding their families respectively. Dealing with divorced parents, broken home, cheating father, accepting new mother as well as new father and misunderstanding are, more or less, things mainly brought up in this novel. The depiction of how any trivial things can be so swallowing in those situations is also delivered well for me.  Unfortunately, since I’m fonder of Hadley and Oliver’s story, these heavier conflicts can’t really pull me in. Regardless, the cute and sweet conversation between Hadley and his father is one of my favorites.

To sum up, is this novel worth the reading?

I can say yes, especially when you are in the mood for reading light romance that is a bit cliché. As simple as it is, the story will still be able to stamp on little smiles on your face along your reading. The only disappointment I have is, the title doesn’t represent the story and so doesn’t the story represent the title.

How many stars will you rate this book?

Overall, I could rate this novel 3,5 out of 5 stars. On Goodreads, I saw this novel was rated 3,8 stars. Not that bad.

Will you recommend this to other people?

Probably, but I’m not sure either, haha. It will depend on who I will recommend it to, I guess. Anyway, this novel is pretty much PG rated. So, as long as you told your kids for not allowing strangers to kiss them within 24 hours since they know him/her, then I guess everything will just be fine haha.

How can you get this novel?

Online book stores can always be your easiest option. Or, ask your friends. Who knows one of your friends has this novel haha.

Lastly, be happy always, everyone! 😘

Title of Novel: The Statistical Probability of Love at First Sight

Author: Jennifer E. Smith

Publisher: Poppy Hachette Book

Number of pages: 108 pages

screenshot_2016-10-20-23-52-52

 

Pengalaman Membuat Passport

Jadi, seperti yang sudah saya katakan di post sebelumnya, kali ini saya ingin berbagi pengalaman pribadi saya dalam membuat paspor.

Sharing is caring. 

Melihat banyak pengalaman orang lain yang harus bolak balik Kantor Imigrasi beberapa waktu yang lalu membuat hati saya terketuk untuk berbagi pengalaman ini, hehe. Jadi, siapa tahu post kali ini bisa membantu memberikan pencerahan kepada bapak/ibu/mba/mas/kakak/adik sekalian yang berencana akan membuat paspor atau memperpanjang paspor.

Pada dasarnya, alur pembuatan paspor baru dan perpanjangan masa berlaku paspor itu sama. Persyaratannya pun hampir sama. Dan, jika ditanya apakah prosesnya sulit atau tidak? Saya bisa katakan, tidak. Saya cukup senang melihat bahwa birokrasi di negara tercinta kita ini sekarang mulai berbenah. Nah, birokrasinya sudah mulai berbenah, giliran masyarakatnya juga dong ikut berbenah. ☺

Sebagai informasi, saya membuat paspor secara manual (walk in) dan saya membuatnya di Kantor Imigrasi Unit Layanan Paspor (ULP) Bandung yang beralamat di Jl. Soekarno Hatta No. 162/348 (saya juga bingung tentang nomornya karena di gedungnya tertulis no. 162 tapi di Google Maps, alamatnya di no. 348). Patokan jelas Kantor ULP ini adalah Gedung Bina Citra Lestari Lantai 3. Gedung Bina Citra Lestari itu tepat di samping Gedung Bandung Convention Center (BCC) dan kalau dari arah Cimahi, letaknya setelah Terminal Leuwipanjang.

Pertama. Apa yang harus dipersiapkan?

1. Niat dan waktu

Niat itu penting, supaya kalau disuruh bolak balik karena satu dan lain hal, ngga gampang putus asa dan emosional. Niat juga penting supaya proses mempersiapkan berkas yang disyaratkan dijalani dengan sungguh-sungguh.

Waktu juga sangat penting. Kantor Imigrasi Unit Layanan Paspor (ULP) Bandung itu mulai beroperasi pukul 07.30 pagi. Tapi, sudah bisa dipastikan antrian akan dimulai dari pukul 06.00. Kantor Imigrasi memberlakukan sistem first come first serve. Jadi, semakin pagi anda datang, semakin cepat aplikasi paspor anda untuk diproses. Begitu pun sebaliknya, semakin siang anda datang, semakin lama pula anda harus menunggu, atau bahkan, semakin besar pula kemungkinan anda pulang dengan tangan hampa dan kembali lagi keesokan harinya.

2. Dokumen identitas pribadi

Sebenarnya syarat dokumen untuk paspor itu terbilang sederhana. Jadi, selama anda menjadi warga negara yang baik dengan selalu melengkapi dokumen pribadi yang wajib dimiliki, anda tidak akan menemukan kesulitan yang berarti.

Dokumen yang dibutuhkan adalah:

  • 1 Copy KTP yang berlaku (bagi yang belum mempunyai e-KTP, ayo sebaiknya diurus terlebih dahulu)
  • 1 Copy Akta Kelahiran
  • 1 Copy Kartu Keluarga
  • 1 Copy Ijazah terakhir/Buku Nikah
  • Bagi yang ingin memperpanjang paspor lamanya, dibawa juga paspor lamanya.
  • Materai 6000 (jumlahnya disesuaikan dengan jumlah paspor yang ingin dibuat, pembuatan satu paspor membutuhkan satu materai)

Hal-hal penting untuk diperhatikan dari semua berkas/dokumen adalah:

1.Pastikan semua data yang tertulis di semua berkas itu sama. Pastikan nama, alamat serta tempat tanggal lahir yang ada di KTP, KK, Akta Kelahiran dan Ijazah atau Buku Nikah itu sama. Petugas Kantor Imigrasi tidak akan menolerir perbedaan data, meskipun itu hanya satu huruf. Anda akan disuruh pulang lagi untuk mengurus surat keterangan mengenai data yang berbeda sampai di tingkat kecamatan.

Saya mengalami hal ini. Jadi, nama di KTP saya itu masih nama yang salah dan saya baru akan menerima KTP saya yang telah dikoreksi nanti di Bulan Desember. Jadi, satu-satunya cara agar tetap diproses aplikasi paspornya adalah dengan meminta surat keterangan mengenai kesalahan data di KTP sampai tingkat kecamatan. Berdasarkan pengalaman saya, saya harus meminta surat rujukan ke RT terlebih dahulu lalu ke RW dan kemudian ke Kelurahan. Nah, surat keterangan dibuatnya di Kelurahan, untuk nanti di legalisir di Kecamatan.

2.Bawa semua berkas aslinya saat anda datang ke kantor imigrasi. Tanpa berkas aslinya, aplikasi paspor anda tidak akan bisa diproses.

3. Bagi yang bukan asli berdomisili di Bandung, mahasiswa/i dari luar kota contohnya, bisa membuat paspor dengan menggunakan KTM dan (mungkin) meminta surat keterangan juga sampai tingkat kecamatan.

4. Buatlah semua copy-an dokumen di kertas ukuran A4. Semuanya. Begitu pun KTP, jadi copy KTP-nya jangan digunting sesuai ukuran KTP ya.

Semua persyaratan berkasnya lengkap dan akurat. Kedua, apa yang harus dilakukan?

1. Persiapkan semua copy-an berkas dan aslinya dalam satu map.

Mapnya bebas. Ini ditujukan agar memudahkan anda dan petugas Kantor Imigrasi dalam melakukan pengecekan.

2. Bangun dan berangkat sepagi mungkin.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya bahwa Kantor Imigrasi memberlakukan sistem first come first serve. Pengambilan nomor antrian pun hanya sampai pukul 10.00. Tapi, saya sangat sarankan anda datang sebelum pukul 07.00.

3. Mengambil nomor antrian pemeriksaan dokumen/mendaftar di waiting list

Nomor antrian ini hanya ada 100 nomor dan akan habis sebelum jam 07.30. Bagi yang tidak mendapat  nomor antrian, akan masuk data waiting list yang ada di meja keamanan di luar. Kemarin saya sampai di KanIm pukul 07.47, dan saya sudah masuk waiting list no. 27 (yang berarti nomor antrian saya itu 127). Saya sampai disana pukul 07.47, dan baru dipanggil ke meja pemeriksaan dokumen pukul 10.00 (Haha lama yaaa). Ada tiga petugas yang akan melayani pemeriksaan dokumen ini.

4. Mengisi formulir.

Jika berkasnya lengkap,semua berkas akan dimasukkan ke dalam map kuning (dari Kantor Imigrasi) dan anda juga akan diberikan nomor antrian untuk wawancara, foto dan sidik jari. Akan terdapat dua lembar formulir di dalam map yang harus anda isi sambil menunggu nomor antrian anda dipanggil. Formulir pertama adalah formulir biodata yang berisi nama, alamat, tempat tanggal lahir, kantor, nama orang tua, tempat tanggal lahir orang tua, alamat orang tua, dsb. Sedangkan formulir kedua adalah formulir surat pernyataan, nah formulir ini yang membutuhkan materai 6000.

Setelah mengisi formulir ini, silakan menunggu nomor anda dipanggil. Saya sendiri kemarin harus menunggu 1,5 jam sampai akhirnya dipanggil untuk wawancara, foto dan pengambilan sidik jari. Sebenarnya tertulis disana ada 8 loket wawancara yang tersedia. Tapi, kemarin saya hanya melihat 3 loket saja yang beroperasi.

5. Setelah dipanggil, silakan masuk ke loket sesuai nomor antrian anda.

Proses wawancara, pengambilan foto dan pengambilan sidik jari berlangsung cukup cepat. Lamanya kurang lebih 15 menit/orang. Wawancara juga sebatas pertanyaan seperti mau kemana? tujuannya apa? dsb. Setelah proses wawancara, foto dan pengambilan sidik jari ini selesai, anda akan diberikan dua buah kertas. Yang satu merupakan kertas pembayaran dan yang lain adalah kertas biodata (saya juga ngga ngerti fungsi kertas kedua).

6. Melakukan pembayaran ke bank.

Setelah mendapatkan kertas pembayaran, anda bisa langsung melakukan pembayaran ke bank atau kantor pos yang berafiliasi dengan Kantor Imigrasi. Saya tidak tahu daftar bank lengkapnya, tapi kemarin saya melakukan pembayaran ke bank BNI. Mungkin anda bisa bertanya ke keamanan bank yang anda tuju apakah anda bisa melakukan pembayaran paspor disana.

Total yang harus saya bayar itu Rp 355.000. Kalau saya tidak salah, Rp 5.000 itu merupakan biaya administrasinya. Paspor anda baru akan bisa diambil setelah 3 hari kerja terhitung dari tanggal anda melakukan pembayaran. Saya kemarin melakukan pembayaran hari Rabu dan petugas Kantor Imigrasi mengatakan saya bisa mengambil paspor hari Senin mendatang.

7. Mengambil paspor

Seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya, pengambilan paspor dapat dilakukan setelah 3 hari kerja sejak pembayaran paspor dilakukan. Dan, pengambilan paspor hanya bisa dilakukan dari pukul 13.00-14.30. Anda cukup membawa bukti pembayaran dari bank dan bukti pembayaran yang diberikan oleh Kantor Imigrasi. Begitu sampai di KanIm, langsung saja menuju meja pemeriksaan berkas. Berikan dua bukti pembayaran tadi, nanti anda akan diberikan nomor antrian.

Pengambilan paspor ini hanya bisa diwakili oleh anggota keluarga yang terdaftar di Kartu Keluarga. Dan, jika diwakili orang lain, maka anda harus membuat surat kuasa bermaterai.

Kemarin saya mendapatkan nomor antrian 5-073 sedangkan di layar loket pengambilan paspor tertulis 5-003. Sempat deg-degan harus menunggu berjam-jam. Tapi, tidak sampai 5 menit kemudian, nama saya dipanggil padahal saya lihat masih banyak orang yang menunggu lebih dulu dari saya belum dipanggil. Asumsi saya sih, pemanggilan nama diurutkan dari tanggal pembayaran. Seperti yang sudah saya sebutkan, sebenarnya saya bisa mengambil paspor dari hari Senin, tapi karena satu dan lain hal, saya baru bisa mengambil paspor hari Rabu. Dan yeay! paspor saya sudah jadi. Here it is~

img_20161013_211532